Review Hope: Film Monster yang Berani Tampil Beda

-
Review Hope: Film Monster yang Berani Tampil Beda

Setelah hampir satu dekade sejak The Wailing (2016), Na Hong-jin akhirnya kembali ke layar lebar lewat Hope. Kali ini, sutradara The Chaser tersebut tidak lagi bermain di wilayah thriller murni, melainkan membawa penonton masuk ke cerita sci-fi penuh aksi tentang sebuah desa yang mendadak diteror makhluk misterius.

Hope mengambil latar di Hope Harbor, sebuah desa terpencil di Korea Selatan. Cerita berawal ketika Beom-seok (Hwang Jung-min), kepala polisi setempat, menemukan bangkai hewan dengan luka yang tidak biasa. Belum sempat menemukan jawabannya, situasi desa berubah menjadi kacau.

Serangkaian serangan terjadi. Warga tewas, rumah-rumah hancur, dan tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang mereka hadapi.

Beom-seok kemudian harus bekerja sama dengan Sung-ae (Jung Ho-yeon) dan Sung-ki (Zo In-sung) untuk mencari tahu sumber teror tersebut.

Awalnya Bikin Penasaran

Hal paling menarik dari Hope justru datang dari bagian awalnya. Na Hong-jin sengaja menahan kemunculan makhluk yang menjadi sumber masalah.

Alih-alih langsung menunjukkan monster, penonton hanya diperlihatkan jejak kehancurannya. Ada tubuh korban, bangunan yang rusak, suara tembakan, ledakan, hingga kepanikan warga.

Cara ini berhasil membuat rasa penasaran terus terjaga. Kita dibuat ikut bertanya-tanya: sebenarnya makhluk apa yang menyerang desa ini?

Bagian awal Hope bahkan terasa seperti perpaduan film thriller, horor, dan western. Beom-seok terus bergerak mengejar sesuatu yang selalu selangkah lebih maju darinya.

Namun, kesabaran penonton memang cukup diuji. Dengan durasi sekitar 160 menit, film ini terasa lambat di beberapa bagian. Buat yang berharap langsung disuguhi aksi sejak awal, Hope mungkin terasa sedikit melelahkan.

Begitu Monster Muncul, Film Berubah

Setelah misterinya mulai terbuka, Hope berubah menjadi film aksi dengan skala yang jauh lebih besar.

Desa yang sebelumnya terasa tenang berubah menjadi arena kekacauan. Rumah hancur, kendaraan beterbangan, warga berlarian menyelamatkan diri, sementara para karakter berusaha bertahan hidup dari serangan makhluk tersebut.

Di sinilah kemampuan Na Hong-jin dalam membangun atmosfer benar-benar terlihat.

Tata artistik film ini patut diapresiasi. Hope Harbor terasa seperti desa yang benar-benar baru saja dilanda bencana besar. Ditambah pergerakan kamera yang agresif tetapi tetap enak diikuti, adegan kejar-kejaran dan survival menjadi salah satu bagian paling menghibur.

Kalau punya kesempatan, film seperti ini memang lebih terasa ketika ditonton di layar besar.

Masalah Hope muncul setelah film memasuki bagian tengah hingga akhir.

Ketika misteri utama mulai terungkap, rasa penasaran yang sebelumnya menjadi bahan bakar film perlahan menghilang. Film kemudian lebih banyak mengandalkan adegan pertempuran dan kejar-kejaran.

Bukan berarti adegan aksinya buruk. Justru sebaliknya, banyak yang terlihat spektakuler. Hanya saja, beberapa rangkaian aksi terasa terlalu panjang dan tidak selalu memberikan perkembangan cerita yang berarti.

Sejumlah pertanyaan penting mengenai makhluk tersebut juga belum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Hal ini membuat Hope terasa seperti cerita yang memang sengaja disiapkan untuk berlanjut ke film berikutnya.

Akting Solid, CGI Bikin Ekspektasi Turun

Dari sisi pemain, Hope punya jajaran nama yang sulit dianggap remeh. Hwang Jung-min tampil meyakinkan sebagai polisi yang harus menghadapi situasi di luar kemampuannya.

Jung Ho-yeon dan Zo In-sung juga mampu menjaga film tetap hidup. Menariknya, humor yang muncul di tengah situasi kacau justru menjadi salah satu kejutan menyenangkan. Beberapa dialog dan tingkah para karakter terasa kocak tanpa benar-benar merusak ketegangan.

Sayangnya, hal berbeda terjadi pada CGI makhluknya. Setelah film cukup lama membangun misteri tentang sosok tersebut, penampakannya terasa kurang meyakinkan. Visualnya belum terlihat sehalus yang diharapkan dari film dengan skala sebesar Hope.

Kesimpulan

Hope adalah film yang punya ambisi besar dan berhasil memberikan tontonan aksi yang seru. Na Hong-jin juga membuktikan bahwa dirinya mampu bermain di genre yang berbeda tanpa kehilangan ciri khas dalam membangun ketegangan.

Kekuatan terbesar film ini ada pada atmosfer, sinematografi, tata artistik, serta adegan aksinya. Namun, durasi panjang, cerita yang mulai repetitif, dan CGI makhluk yang kurang meyakinkan membuat pengalaman menontonnya tidak selalu konsisten.

Meski begitu, Hope tetap layak masuk daftar tontonan bioskop, terutama buat kamu yang suka film sci-fi, monster, dan aksi berskala besar.

Jangan datang dengan ekspektasi akan mendapatkan The Wailing versi sci-fi. Hope adalah permainan baru Na Hong-jin lebih besar, lebih berisik, lebih brutal, dan jelas lebih mengutamakan hiburan.