Review Beautiful Pain, Drama Perjuangan Ibu Melawan KDRT dan Stigma Sosial

-
Review Beautiful Pain, Drama Perjuangan Ibu Melawan KDRT dan Stigma Sosial

Beautiful Pain mengangkat perjuangan seorang ibu keluar dari rumah tangga penuh kekerasan demi masa depan anak-anaknya. Dibintangi Raihaanun dan Baim Wong, film ini menyentuh isu KDRT dan pelecehan seksual, meski masih menyisakan sejumlah kelemahan dalam penceritaannya.

Sinopsis Beautiful Pain

Beautiful Pain mengikuti kisah Niken Rahmawati (Raihaanun), perempuan yang memilih bercerai dari suaminya, Dirga (Baim Wong), setelah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Keputusan itu bukan perkara mudah. Niken harus meninggalkan kehidupan nyaman dan memulai semuanya dari nol demi melindungi kedua anaknya, Naia (Anantya Kirana) dan Dio (Evano Zyan Alparezi).

Setelah berpisah, Niken tinggal bersama ibunya, Rahmania (Jajang C. Noer). Kehidupan barunya jauh dari kata mudah. Ia harus mencari penghasilan sendiri, menghadapi persoalan keluarga, sekaligus memperjuangkan hak asuh anak-anaknya. Di tengah situasi tersebut, dukungan yang diharapkan justru tak selalu datang dari orang terdekat.

Harapan mulai muncul ketika Niken bertemu kembali dengan Sekar (Siti Fauziah), teman lamanya semasa SMA. Melalui Sekar, ia mendapat pekerjaan di sebuah rumah produksi. Penampilannya menarik perhatian sutradara yang kemudian menawarkan peran akting kepadanya.

Kesempatan itu perlahan membantu Niken memperbaiki kondisi ekonominya. Namun, masalah kembali muncul ketika ia mengalami pelecehan seksual di lingkungan kerja. Niken pun harus menghadapi persoalan baru, mulai dari ketidakadilan hingga stigma yang kerap menyudutkan perempuan korban kekerasan.

Raihaanun Jadi Kekuatan Utama Film

Salah satu hal yang membuat Beautiful Pain layak mendapat perhatian adalah keberaniannya mengangkat persoalan perempuan tanpa membatasi cerita pada konflik rumah tangga. Film ini memperlihatkan bahwa meninggalkan pasangan yang melakukan kekerasan bukan berarti perjuangan korban selesai.

Niken masih harus menghadapi tekanan sosial, pelecehan seksual, dan pandangan yang mempertanyakan keputusannya sebagai seorang istri sekaligus ibu. Persoalan tersebut membuat perjalanan karakternya terasa dekat dengan realitas yang dihadapi sebagian perempuan.

Raihaanun menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Ia membawakan karakter Niken dengan cukup natural, terutama ketika harus memperlihatkan pergulatan batin seorang ibu yang berusaha bertahan di tengah berbagai tekanan. Emosinya terasa tanpa harus selalu disampaikan melalui dialog panjang.

Penampilan Baim Wong sebagai Dirga juga mendukung konflik cerita. Sementara itu, Siti Fauziah mencuri perhatian lewat karakter Sekar yang ceplas-ceplos dan sesekali mengundang tawa. Kehadirannya menjadi penyeimbang di tengah cerita yang dipenuhi persoalan serius.

Hubungan Niken dan Sekar sekaligus memperkuat pesan tentang solidaritas perempuan. Sekar tidak serta-merta menyelesaikan masalah Niken, tetapi hadir ketika temannya membutuhkan dukungan. Pendekatan sederhana ini membuat pesan film terasa lebih membumi.

Pesan Kuat, tetapi Cerita Belum Sepenuhnya Matang

Sayangnya, keberanian mengangkat isu sosial belum sepenuhnya diimbangi penceritaan yang rapi. Penggunaan alur non-linear beberapa kali memutus emosi karena perpindahan antara masa lalu dan masa kini terasa kurang mulus.

Sejumlah perkembangan cerita juga berlangsung terlalu cepat. Perubahan kondisi ekonomi Niken setelah mulai bekerja sebagai aktris, misalnya, terasa kurang meyakinkan karena film tidak memberikan penjelasan yang cukup mengenai prosesnya. Beberapa detail kontinuitas adegan dan dialog bersama anak-anaknya juga mengurangi kekuatan cerita.

Meski begitu, kekurangan tersebut tidak sampai menenggelamkan pesan yang ingin disampaikan. Sisipan humor, terutama melalui Sekar, membantu cerita terasa lebih hidup dan tidak terus-menerus menekan emosi penonton.

Apakah Beautiful Pain Layak Ditonton?

Beautiful Pain cocok bagi penonton yang menyukai drama keluarga dengan isu KDRT, pelecehan seksual, dan perjuangan perempuan. Film ini memang belum sempurna, tetapi memiliki keberanian untuk membicarakan persoalan yang sering kali sulit disuarakan.

Pada akhirnya, Beautiful Pain mengingatkan bahwa meninggalkan hubungan toksik hanyalah langkah awal. Setelahnya, korban masih harus menghadapi stigma, ketidakadilan, dan perjuangan untuk mendapatkan kembali kendali atas hidupnya.

Film produksi Dapur Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026. Bagi yang mencari drama dengan isu sosial kuat dan penampilan emosional Raihaanun, Beautiful Pain layak masuk daftar tontonan, meski perlu memaklumi alurnya yang belum sepenuhnya solid.