Review Film The Home: Horor Panti Jompo yang Kehilangan Arah Cerita
Tim Teaterdotco - 19 jam yang lalu
James DeMonaco kembali ke genre horor lewat film terbarunya berjudul The Home. Sutradara yang dikenal lewat kesuksesan waralaba The Purge ini mencoba menghadirkan teror dengan latar tak biasa, yakni sebuah panti jompo mewah. Premisnya terdengar segar dan berpotensi menghadirkan kritik sosial yang tajam. Namun sayangnya, film ini justru terjebak dalam cerita yang kacau dan sulit membangun ketegangan secara konsisten.
Dibintangi Pete Davidson, The Home sebenarnya punya modal kuat untuk menyentil isu ketimpangan generasi dan kegelisahan anak muda. Sayang, potensi tersebut tidak berkembang maksimal sepanjang film.
Sinopsis Film The Home
Cerita berfokus pada Max, seorang pemuda bermasalah yang menjalani hukuman pelayanan masyarakat di sebuah rumah lansia bernama Green Meadows. Max bukan tanpa luka. Ia masih dibayangi trauma mendalam setelah adik angkatnya, Luke, mengakhiri hidup tak lama setelah merayakan keberhasilan masuk perguruan tinggi.
Trauma itu membuat Max sulit mengendalikan hidupnya. Hukuman kerja sosial di Green Meadows menjadi upaya terakhir ayah angkatnya untuk menjauhkan Max dari penjara. Dari luar, panti jompo tersebut terlihat nyaman dan tenang. Namun ketenangan itu perlahan berubah menjadi rasa tidak nyaman.
Max mulai mendengar jeritan aneh di malam hari dan melihat para lansia yang tampak terlalu bugar untuk usia mereka. Rasa penasaran membawanya ke lantai empat, area terlarang yang menyimpan pemandangan mengganggu. Para lansia di sana duduk dengan tatapan kosong, dikelilingi televisi yang menayangkan dokumenter pengeboran minyak. Sejak saat itu, Max menyadari bahwa Green Meadows menyimpan rahasia gelap yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
Akting Pete Davidson yang Kurang Menyatu
Pemilihan Pete Davidson sebagai Max sebenarnya menarik. Ia merepresentasikan generasi muda yang frustrasi dan sinis terhadap masa depan. Bahkan, beberapa dialognya secara gamblang menyentil generasi tua yang dianggap mewariskan krisis lingkungan dan ketimpangan sosial.
Namun secara akting, Davidson terasa kurang menggali emosi karakter. Max seharusnya tampil penuh amarah, luka, dan kegelisahan batin. Yang muncul di layar justru ekspresi datar dan reaksi emosional yang minim, bahkan pada adegan penting yang seharusnya menyentuh.
Visual Menarik, Horor Terasa Dangkal
Dari sisi visual, The Home cukup berani bermain warna dan komposisi gambar. Nuansa merah dan biru yang mencolok memberi kesan surealis dan berusaha membangun atmosfer tidak wajar. Sayangnya, estetika tersebut tidak didukung alur cerita yang solid.
Film ini terlalu bergantung pada jumpscare dengan suara keras yang mudah ditebak. Alih-alih membuat tegang, beberapa adegan horor justru terasa berlebihan dan memancing tawa. Sosok lansia dengan tampilan ekstrem hadir tanpa pembangunan emosi yang kuat, sehingga dampak horornya cepat menguap.
Kritik Sosial yang Tidak Tergarap Maksimal
Tema besar tentang penuaan, ketimpangan generasi, dan kecemasan masa depan sebenarnya menjadi kekuatan utama film ini. Lansia di Green Meadows hidup nyaman dan aman, sementara Max memandang masa depannya penuh kehampaan. Sayangnya, film ini tidak konsisten dalam menyampaikan pesannya.
The Home tampak ragu menentukan sudut pandang, apakah lansia digambarkan sebagai korban sistem atau justru simbol ketidakadilan itu sendiri. Akibatnya, kritik sosial yang seharusnya tajam justru terasa setengah hati.
The Home adalah contoh film dengan ide besar namun gagal dieksekusi secara matang. Ia tidak cukup menakutkan sebagai film horor, sekaligus tidak cukup dalam sebagai sindiran sosial. Meski memiliki premis menarik dan visual yang cukup berani, cerita yang tidak fokus membuat film ini sulit meninggalkan kesan mendalam. Bagi penonton yang mengharapkan horor dengan pesan kuat, film ini kemungkinan besar terasa mengecewakan.