Review Film Malam 3 Yasinan: Horor Keluarga dengan Konflik Warisan yang Lebih Dominan
Tim Teaterdotco - 18 jam yang lalu
Film horor Indonesia biasanya identik dengan teror cepat, suara keras, dan penampakan yang datang tiba-tiba. Namun Malam 3 Yasinan memilih jalur yang berbeda. Diproduksi oleh Helroad Films bersama Alkimia Production, film ini tidak buru-buru menakut-nakuti penonton. Sebaliknya, ketegangan dibangun perlahan lewat konflik keluarga yang penuh rahasia dan luka lama.
Alih-alih mengandalkan jumpscare, Malam 3 Yasinan mencoba memadukan horor dengan drama keluarga. Pendekatan ini membuat film terasa lebih sunyi, lebih pelan, tapi juga menyimpan potensi emosi yang cukup dalam.
Kisah Kematian yang Membuka Luka Lama
Cerita berpusat di rumah besar keluarga Djoyodiredjo. Opa Hendra tinggal bersama anak-anaknya, Lily dan Ari, yang sudah berumah tangga. Masalah mulai muncul dari Ari, yang memiliki dua istri, Lana dan Layla, dengan konflik terselubung soal status dan warisan keluarga.
Situasi semakin rumit ketika Samira pulang ke rumah keluarga usai mendengar kabar kematian mendadak saudari kembarnya, Sara. Malam yasinan pertama digelar sebagai bentuk doa, namun justru menjadi awal dari rangkaian kejadian ganjil. Teror perlahan muncul, seiring terbukanya rahasia kelam yang selama ini ditutup rapat demi menjaga nama baik keluarga.
Drama Keluarga Jadi Nafas Utama Film
Sejak awal, Malam 3 Yasinan terasa lebih kuat sebagai drama keluarga dibanding film horor murni. Isu harga diri, kekuasaan, serta obsesi terhadap kesempurnaan menjadi benang merah cerita. Konflik soal siapa yang pantas menjadi penerus keluarga terasa relevan dan dekat dengan realitas sosial.
Sayangnya, dialog di beberapa bagian terasa terlalu panjang dan berputar-putar. Alih-alih memperdalam emosi, beberapa percakapan justru membuat tensi menurun. Unsur horor yang muncul pun cenderung mudah ditebak, sehingga rasa takutnya tidak bertahan lama.
Dari sisi akting, performa para pemain terbilang timpang. Ada karakter yang terasa hidup, ada pula yang tampak datar di momen penting. Beberapa adegan seharusnya memancing kepanikan atau kesedihan mendalam, namun respons karakter justru terlalu tenang.
Di tengah ketidakseimbangan itu, Wulan Guritno tampil sebagai kekuatan utama film. Permainannya konsisten dan meyakinkan, membuat karakter yang ia perankan terasa nyata. Chemistry-nya dengan Shaloom Razade juga menjadi salah satu daya tarik, terutama lewat dialog-dialog yang terasa lebih cair dan natural.
Shaloom sendiri menunjukkan potensi dengan peran ganda sebagai karakter kembar, meski masih perlu pendalaman emosi di beberapa adegan. Sementara Piet Pagau sebagai Opa Hendra tampil solid, membawa aura dingin dan misterius sebagai kepala keluarga yang menyimpan banyak rahasia.
Secara struktur cerita, Malam 3 Yasinan sebenarnya memiliki build up yang rapi. Penonton dibuat menunggu momen puncak dengan rasa penasaran. Namun tempo yang terlalu lambat membuat klimaksnya terasa kurang menghentak. Ketegangan yang dibangun sejak awal tidak sepenuhnya terbayar di akhir cerita.
Dari sisi visual, meski berlatar era 1980-an, sinematografi film ini justru terasa modern. Hal ini membuat film mudah dinikmati secara visual, meski nuansa zamannya tidak terlalu terasa.
Kesimpulan: Lebih Cocok untuk Penikmat Drama Horor Ringan
Malam 3 Yasinan bukan film horor yang akan membuat penonton menjerit ketakutan. Kekuatan utamanya justru terletak pada konflik keluarga dan misteri yang perlahan terungkap. Horornya hadir sebagai pelengkap, bukan pusat cerita.
Bagi penonton yang menyukai kisah keluarga penuh rahasia dengan sentuhan thriller ringan, film ini masih layak ditonton. Malam 3 Yasinan resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Januari 2026.