Review GJLS: Berapi-Api, Trio GJLS Mengejar Mimpi Jadi Damkar
Kai Renata -
Film GJLS: Berapi-Api menghadirkan kisah tiga sahabat yang berjuang mewujudkan cita-cita menjadi petugas pemadam kebakaran. Dibintangi Rigen, Rispo, dan Hifdzi, film komedi ini memadukan humor absurd, aksi penyelamatan, serta pesan tentang persahabatan dan pengabdian kepada masyarakat.
Sinopsis GJLS: Berapi-Api
Cerita berpusat pada Rigen (Rigen Rakelna), Rispo (Ananta Rispo), dan Hifdzi (Hifdzi Khoir), tiga sahabat yang sejak kecil bercita-cita menjadi anggota pemadam kebakaran. Mereka menganggap profesi tersebut sebagai pekerjaan mulia karena selalu hadir untuk membantu masyarakat dalam situasi darurat.
Ketika dewasa, ketiganya akhirnya mengikuti seleksi penerimaan anggota pemadam kebakaran. Meski berhasil melewati tes tertulis, perjuangan mereka tidak berjalan mulus saat memasuki tahapan berikutnya. Tes fisik, bela diri, hingga berbagai latihan penyelamatan justru menjadi sumber masalah bagi ketiganya.
Di bawah pengawasan regu Algojo Api yang dipimpin Bondan (Carissa Perusset), mereka harus membuktikan kemampuan dan keseriusan untuk bergabung dengan institusi tersebut. Sayangnya, berbagai kegagalan membuat impian mereka semakin sulit diwujudkan.
Kesempatan lain datang ketika Toni memberikan tugas kemanusiaan kepada ketiganya. Mereka harus menangani berbagai laporan warga, mulai dari membantu seseorang yang kepalanya tersangkut pagar, menangkap ular, hingga menghadapi persoalan sehari-hari yang tidak terduga.
Situasi semakin rumit ketika mereka menemukan petunjuk mengenai kasus penculikan anak dan tabrak lari. Ketiganya pun berusaha mengungkap kejadian tersebut, meskipun kemampuan mereka sebagai calon petugas damkar masih dipertanyakan.
Komedi Absurd dengan Kekompakan Trio GJLS
Salah satu kekuatan utama GJLS: Berapi-Api terletak pada chemistry Rigen, Rispo, dan Hifdzi. Ketiganya terlihat sangat natural ketika saling melempar candaan. Gaya komedi yang terasa seperti percakapan sehari-hari membuat banyak adegan berjalan tanpa kesan dipaksakan.
Film ini juga memiliki sejumlah momen slapstick yang mengundang tawa, terutama ketika ketiganya menghadapi situasi tidak terduga saat menjalankan tugas. Ketakutan mereka terhadap ular, misalnya, menjadi materi komedi yang efektif.
Kehadiran regu Algojo Api turut memberikan warna tersendiri. Karakter Bondan, Jay, Jo, Sugeng, dan Sentot tampil lebih tegas sehingga menciptakan kontras menarik dengan tingkah konyol trio GJLS. Interaksi antara para pemain juga membuat humor film terasa lebih beragam.
Konflik Drama Kurang Maksimal
Meski menawarkan banyak adegan lucu, GJLS: Berapi-Api belum sepenuhnya konsisten dalam menjaga keseruannya. Bagian awal berhasil memperkenalkan karakter dan motivasi mereka, sedangkan bagian pelatihan menjadi salah satu titik paling menghibur.
Namun, ketika memasuki konflik utama dan penyelesaian cerita, intensitas komedi mulai berkurang. Unsur drama yang dibangun terasa kurang kuat dan beberapa penyelesaian konflik cenderung mudah ditebak.
Dari aspek produksi, film ini cukup memperhatikan detail profesi pemadam kebakaran. Keterlibatan anggota damkar sungguhan membantu menghadirkan aktivitas penyelamatan yang lebih meyakinkan. Adegan pemadaman api juga dikemas dengan dukungan efek visual.
Secara keseluruhan, GJLS: Berapi-Api merupakan film komedi Indonesia yang menawarkan hiburan melalui kekompakan pemain dan situasi absurd. Meski bagian akhirnya tidak sekuat komedi pada paruh awal, film garapan Monty Tiwa ini tetap memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan sekaligus mengingatkan penonton untuk menghargai pengabdian petugas pemadam kebakaran.
Film produksi Amadeus Sinemagna ini tayang di bioskop Indonesia mulai 5 November 2026 dengan durasi 110 menit dan klasifikasi usia 13 tahun ke atas.