Review Kafir: Gerbang Sukma, Teror Dendam Lintas Generasi yang Lebih Gelap dan Brutal

Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Review Kafir: Gerbang Sukma, Teror Dendam Lintas Generasi yang Lebih Gelap dan Brutal

Setelah delapan tahun berlalu sejak film pertamanya dirilis, Kafir: Gerbang Sukma akhirnya hadir sebagai sekuel yang memperluas semesta horor kelam keluarga Sri. Tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 29 Januari 2026, film ini menegaskan posisinya sebagai salah satu sekuel horor lokal paling ambisius, dengan teror yang lebih sadis, emosional, dan sarat konflik batin.

Disutradarai kembali oleh Azhar Kinoi Lubis dan diproduseri Screenplay Films, Kafir: Gerbang Sukma bukan sekadar melanjutkan cerita lama, melainkan membongkar satu per satu rahasia yang selama ini tersembunyi di balik tragedi film pertama.

Sinopsis: Pulang Kampung, Membuka Dosa Lama

Cerita berfokus pada Sri (Putri Ayudya) yang berusaha menjalani hidup tenang bersama kedua anaknya, Andi (Rangga Azof) dan Dina (Nadya Arina). Delapan tahun setelah lolos dari teror santet yang merenggut nyawa sang suami, Sri percaya masa lalu telah terkubur.

Namun ketenangan itu runtuh ketika kabar sakit keras sang ibu memaksa mereka pulang ke desa. Rumah lama yang penuh kenangan kelam justru menjadi pintu masuk bagi teror baru. Bisikan gaib, mimpi buruk berulang, dan benda bergerak sendiri mulai menghantui keluarga ini, seolah ada dosa lama yang menuntut balasan.

Perlahan terungkap bahwa kutukan yang mereka alami bukan kebetulan. Gerbang sukma, sebuah ritual terlarang, menjadi kunci konflik yang menghubungkan masa lalu dan dendam lintas generasi yang belum tuntas.

Teror Lebih Sadis, Emosi Lebih Dalam

Dibanding film pertamanya, Kafir: Gerbang Sukma tampil lebih berani dalam mengeksplorasi horor psikologis dan visual. Adegan gore dibuat lebih nyata, namun tetap berpadu dengan tekanan emosional yang konstan. Teror tidak hanya datang dari jumpscare, tetapi dari rasa bersalah, paranoia, dan ketakutan yang terus menekan karakter.

Konflik juga berkembang ke generasi berikutnya, terutama lewat sosok Hanum (Indah Permatasari), yang ternyata masih hidup dan menyimpan dendam mendalam akibat luka fisik dan batin yang ia alami. Pertarungan ilmu hitam dan ilmu putih pun tak terhindarkan, memperbesar skala ancaman yang kini tak hanya menyasar Sri, tetapi anak-cucunya.

Akting Kuat dan Atmosfer Desa yang Mencekam

Putri Ayudya tampil solid sebagai Sri yang rapuh, penuh rahasia, dan terjebak rasa bersalah. Chemistry Rangga Azof dan Nadya Arina sebagai anak-anak yang mulai mempertanyakan masa lalu ibunya terasa natural dan emosional.

Kehadiran Arswendy Bening Swara dan Mutia Datau sebagai orang tua Sri menjadi nilai tambah signifikan. Dengan permainan ekspresi dan pengambilan gambar close-up, keduanya sukses menghadirkan rasa tidak nyaman yang konsisten sepanjang film.

Makna di Balik Gerbang Sukma

Di balik teror brutalnya, film ini menyimpan pesan moral yang kuat. Istilah “kafir” dimaknai bukan sebagai isu agama, melainkan simbol pengkhianatan terhadap iman, keluarga, dan pilihan hidup. Gerbang sukma menjadi metafora bahwa dosa yang tak diakui akan selalu mencari jalan kembali, bahkan menghantui generasi berikutnya.

Kafir: Gerbang Sukma adalah sekuel horor Indonesia yang matang, lebih gelap, dan berani. Dengan cerita dendam lintas generasi, akting kuat, serta atmosfer desa yang mencekam, film ini berhasil melampaui pendahulunya. Cocok untuk pencinta horor lokal yang mencari kisah mistis dengan lapisan emosional dan psikologis yang dalam.