Review Tolong Saya! (Dowajuseyo): Film Horor yang Bikin Gelisah
Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
Kalau kamu datang ke bioskop dengan harapan film horor yang penuh jumpscare dan teriakan, Tolong Saya! (Dowajuseyo) mungkin bukan pilihan tepat. Tapi kalau kamu suka horor yang pelan, dingin, dan diam-diam bikin perasaan gak enak, film ini justru punya daya tarik sendiri.
Diproduksi oleh Heart Pictures dan disutradarai Nur Muhammad Taufik bersama Sjahfasyat Bianca, Tolong Saya! (Dowajuseyo) mencoba keluar dari pakem horor Indonesia pada umumnya. Alih-alih mengandalkan teror instan, film ini memilih jalur horor psikologis dengan latar lintas budaya Indonesia dan Korea Selatan.
Cerita tentang Teror dan Rasa Terasing
Film ini mengikuti kisah Tania (Saskia Chadwick), mahasiswi Indonesia yang menjalani program pertukaran pelajar di Korea Selatan. Hidupnya berubah ketika ia mulai berinteraksi dengan arwah penasaran bernama Min Yong (Kim Seoyoung), perempuan Korea yang meninggal dengan menyimpan trauma akibat kekerasan seksual.
Tania bukan sekadar diteror, tapi juga merasa terpanggil untuk membantu Min Yong mendapatkan keadilan. Bersama Dr. Park Min Jae (Kim Geba), dokter Korea yang perlahan menjadi tempat bersandar, serta sahabatnya Sherly (Aruma Khadijah), Tania mencoba menelusuri potongan-potongan masa lalu Min Yong.
Menariknya, Korea Selatan di film ini tidak digambarkan manis seperti di drama romantis. Justru sebaliknya, negeri orang tampil dingin, asing, dan kadang terasa menekan. Bahasa yang tidak sepenuhnya dipahami, kesepian, dan perasaan terisolasi menjadi sumber horor yang paling terasa.
Akting yang Menahan Emosi dengan Baik
Saskia Chadwick jadi penopang utama film ini. Ia berhasil menampilkan Tania sebagai sosok rapuh yang perlahan kelelahan secara mental. Ekspresi dan bahasa tubuhnya bekerja lebih banyak daripada dialog, membuat penonton bisa ikut merasakan kebingungan dan tekanan batin yang ia alami.
Kim Geba tampil cukup solid sebagai Dr. Park Min Jae, karakter yang terasa hangat di tengah suasana dingin film. Sementara Cinta Brian sebagai Dion memberi warna gelap dan misterius, meski karakternya terasa belum sepenuhnya dieksplorasi. Kehadiran aktor Korea Selatan, termasuk Kim Seoyoung sebagai Min Yong, ikut menambah rasa autentik, walau porsinya tidak terlalu banyak.
Atmosfer Kuat, Cerita yang Kadang Terasa Berantakan
Soal atmosfer, Tolong Saya! (Dowajuseyo) punya modal yang kuat. Suasana sunyi, visual dingin, dan tempo lambat konsisten membangun rasa tidak nyaman. Teror tidak datang untuk mengejutkan, tapi merayap perlahan lewat tekanan psikologis.
Namun, di sisi lain, alur ceritanya kerap terasa meloncat-loncat. Banyak bagian yang seolah penting tapi tidak diberi penjelasan cukup, membuat penonton harus menebak-nebak sendiri. Arwah Min Yong lebih sering hadir sebagai simbol trauma daripada sosok horor yang benar-benar menakutkan, sehingga rasa takut jarang muncul secara eksplisit.
Film ini juga mencoba memasukkan terlalu banyak genre sekaligus horor, misteri, hingga romansa cinta segitiga. Alih-alih memperkaya cerita, hal tersebut justru membuat fokusnya terasa terpecah.
Tolong Saya! (Dowajuseyo) adalah film dengan gagasan segar. Ia berani membahas trauma, kekerasan terhadap perempuan, dan rasa terasing lewat pendekatan horor psikologis yang jarang ditemui di film Indonesia.
Sayangnya, niat besar itu belum sepenuhnya diimbangi dengan penceritaan yang rapi dan emosional. Film ini bukan horor yang bikin kamu menutup mata ketakutan, tapi lebih ke horor yang bikin gelisah dan agak kosong setelah keluar dari bioskop.
Kalau kamu suka film horor atmosferik dengan tempo lambat dan tema berat, Tolong Saya! (Dowajuseyo) layak ditonton. Tapi kalau kamu mencari horor yang intens, rapi, dan menghantam emosi secara langsung, film ini mungkin terasa belum sepenuhnya “kena”.
Tolong Saya! (Dowajuseyo) tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Januari 2026.