Review Laut Bercerita: Kisah Perjuangan, Kehilangan, dan Harapan yang Tak Padam
Arga Pratama -
Film Laut Bercerita garapan Yosep Anggi Noen menghadirkan kisah aktivis mahasiswa pada masa Orde Baru yang memperjuangkan demokrasi di tengah ancaman penculikan. Diadaptasi dari novel Leila S. Chudori, film ini menyuguhkan drama sejarah yang emosional tentang perjuangan, kehilangan, dan keluarga yang tak berhenti menunggu kepulangan orang tercinta.
Sinopsis Film Laut Bercerita
Biru Laut Wibisono (Reza Rahadian) merupakan mahasiswa Sastra Inggris yang bergabung dengan kelompok diskusi Winatra setelah bertemu Kasih Kinanti (Dian Sastrowardoyo). Bersama Daniel, Alex, dan Sunu, Laut terlibat dalam gerakan mahasiswa yang memperjuangkan hak rakyat kecil dan kebebasan berpendapat.
Bagi mereka, membaca dan menulis bukan sekadar kegiatan akademis, melainkan bentuk perlawanan terhadap kekuasaan yang represif. Namun, aktivitas kelompok tersebut akhirnya terendus aparat. Laut dan kawan-kawannya terpaksa hidup dalam pelarian, berpindah tempat persembunyian demi menghindari penangkapan.
Di tengah perjuangan itu, Laut harus menahan kerinduan terhadap keluarga dan kekasihnya, Anjani (Eva Celia). Sementara itu, keluarganya di rumah menghadapi ketidakpastian setelah Laut menghilang tanpa kabar.
Perjuangan yang Berubah Menjadi Penantian
Sutradara Yosep Anggi Noen membangun Laut Bercerita melalui perubahan suasana yang terasa bertahap. Bagian awal memperlihatkan kehidupan mahasiswa dengan segala kesederhanaannya, mulai dari diskusi buku, persahabatan, percintaan, hingga perjuangan menghemat uang makan.
Potret tersebut terasa dekat dan sesekali mengundang senyum. Candaan di tengah pelarian menjadi gambaran bahwa para aktivis ini bukan sekadar simbol perlawanan, melainkan anak muda biasa yang tetap membutuhkan tawa, keluarga, dan tempat untuk pulang.
Namun, suasana perlahan berubah ketika ancaman penculikan semakin nyata. Kehidupan yang semula hangat berganti menjadi rangkaian pelarian penuh ketidakpastian. Perubahan ini memperlihatkan bagaimana ketakutan dapat merampas kebebasan seseorang, bahkan ketika hal yang mereka perjuangkan adalah hak untuk berpikir dan bersuara.
Kekuatan emosional film ini mencapai puncaknya melalui keluarga Laut. Ayahnya, Arya Wibisono (Arswendy Bening Swara), terus menyiapkan empat piring di meja makan, seolah putranya masih bisa pulang kapan saja. Kebiasaan sederhana tersebut menjadi simbol penantian panjang keluarga korban penghilangan paksa.
Akting Kuat dengan Catatan pada Alur
Reza Rahadian tampil meyakinkan sebagai Biru Laut. Ia mampu memperlihatkan pergulatan batin seorang pemuda yang teguh pada keyakinannya, tetapi tetap menyimpan rasa takut dan kerinduan. Penampilan Arswendy Bening Swara dan Christine Hakim juga memperkuat sisi kemanusiaan cerita melalui kesedihan orang tua yang kehilangan anaknya.
Dari segi visual, desain produksi berhasil menghidupkan suasana Indonesia pada era 1990-an. Pendekatan realis yang digunakan Anggi Noen membuat ancaman terasa dekat tanpa harus mengandalkan dramatisasi berlebihan. Musik turut memperkuat atmosfer muram, terutama ketika cerita memasuki bagian paling emosional.
Meski demikian, film ini belum sepenuhnya mulus. Perpindahan waktu dan lokasi pada beberapa bagian terasa terputus, sementara perkembangan cerita terkadang berlangsung terlalu cepat. Durasi sekitar dua jam lebih pun terasa belum cukup untuk memberikan ruang bagi seluruh konflik dan kesedihan para tokohnya.
Kesimpulan
Laut Bercerita bukan sekadar film tentang aktivis mahasiswa pada masa Orde Baru. Film ini mengingatkan penonton bahwa di balik perjuangan politik, ada manusia, keluarga, dan orang-orang terkasih yang harus menanggung kehilangan.
Meski memiliki kekurangan dalam penyampaian cerita, kekuatan akting, visual era 1990-an, serta pesan tentang pentingnya merawat ingatan menjadikan film ini layak ditonton. Laut Bercerita meninggalkan pertanyaan yang sulit diabaikan: bagaimana sebuah keluarga bisa benar-benar melanjutkan hidup ketika kepulangan orang yang dicintai tak pernah mendapat kepastian?