Review The Doll Ghawiah, Membongkar Asal-Usul Teror Boneka Terkutuk
Kai Renata -
Film horor Indonesia The Doll Ghawiah membawa penonton menelusuri asal-usul boneka terkutuk dalam semesta The Doll. Berlatar Bandung pada 1988, film garapan Guntur Soeharjanto ini memadukan mitos lokal, teror supranatural, dan drama keluarga dengan nuansa retro yang kental.
Sinopsis The Doll Ghawiah
The Doll Ghawiah mengikuti kisah Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal), pasangan suami istri yang memutuskan meninggalkan Jakarta dan memulai kehidupan baru di Bandung bersama kedua putri mereka, Nala (Laura Moane) dan Gita (Aisyah Aqilah). Setelah mengalami kebangkrutan, mereka membuka restoran dengan harapan dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Namun, kehidupan baru tersebut justru membawa mereka pada serangkaian kejadian mengerikan. Salah satu anak mereka menemukan boneka kayu kuno bernama Ghawiah di kawasan hutan Babakan Siliwangi. Sejak boneka itu dibawa pulang, berbagai peristiwa ganjil mulai menghantui rumah mereka.
Boneka tersebut berpindah tempat tanpa diketahui penyebabnya. Gangguan supranatural juga semakin sering terjadi hingga membuat seluruh anggota keluarga merasa terancam.
Laras (Sara Wijayanto), pelayan restoran milik Arya dan Evi yang mengenal legenda setempat, kemudian mengungkap cerita tentang Uci, seorang anak yang meninggal akibat tabrak lari di Jalan Siliwangi. Konon, arwah Uci masih mencari boneka kesayangannya.
Cerita tersebut menjadi petunjuk untuk mengungkap hubungan antara Ghawiah, kematian Uci, dan teror yang menimpa keluarga Arya. Dari sinilah misteri boneka terkutuk itu perlahan terbuka.
Teror Boneka dengan Sentuhan Legenda Lokal
Sebagai prekuel dari tiga film The Doll yang dirilis pada 2016, 2017, dan 2022, The Doll Ghawiah menawarkan kesempatan untuk memahami latar belakang teror yang menjadi bagian penting dari waralaba ini.
Premisnya memang tidak sepenuhnya baru. Boneka berhantu, keluarga yang diteror, dan upaya mengungkap masa lalu kelam merupakan elemen yang cukup akrab dalam film horor Indonesia. Sejumlah perkembangan cerita pun berpotensi terasa familier bagi penonton yang terbiasa menyaksikan genre serupa.
Meski demikian, pengangkatan urban legend Bandung memberikan daya tarik tersendiri. Mitos tentang Uci dan boneka kesayangannya menjadi fondasi cerita yang membuat ancaman terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Film ini juga menghadirkan beberapa pengungkapan yang menjaga rasa penasaran hingga misterinya semakin jelas.
Terornya tidak hanya mengandalkan jumpscare. Adegan berdarah dan penggambaran luka fisik turut memberikan sensasi tidak nyaman, terutama bagi penonton yang mudah bereaksi terhadap gambaran rasa sakit. Variasi tersebut membuat pengalaman horornya terasa lebih intens.
Atmosfer Retro dan Akting Titi Kamal
Salah satu kekuatan The Doll Ghawiah terletak pada latar Bandung tahun 1988. Penggunaan kostum, tata artistik, musik, dan penataan suara membantu membangun suasana lawas yang mendukung misteri cerita. Nuansa retro ini juga memberikan identitas visual tersendiri di tengah banyaknya film horor berlatar masa kini.
Dari sisi akting, Titi Kamal menjadi salah satu daya tarik utama. Ia membawakan Evi sebagai ibu yang harus menghadapi ketakutan sekaligus melindungi kedua anaknya. Perasaan sedih, marah, dan khawatir yang muncul ketika keluarganya berada dalam bahaya memberikan dimensi emosional pada cerita.
Darius Sinathrya turut mengisi dinamika keluarga melalui karakter Arya. Sementara itu, Sara Wijayanto menghadirkan Laras sebagai sosok yang membantu membuka misteri Ghawiah. Karakter Laras juga menarik karena memperlihatkan sisi lain dirinya dalam periode sebelum peristiwa film-film The Doll sebelumnya.
Kesimpulan
The Doll Ghawiah belum sepenuhnya meninggalkan formula horor konvensional. Namun, kombinasi legenda lokal Bandung, teror yang intens, atmosfer retro 1980-an, dan penampilan Titi Kamal membuat film ini tetap menarik untuk disaksikan.
Bagi penggemar waralaba The Doll, film ini menawarkan tambahan cerita untuk memahami asal-usul boneka terkutuk tersebut. Sementara penikmat horor yang menyukai misteri, gangguan supranatural, dan kisah keluarga dapat menemukan sejumlah elemen yang memikat.
The Doll Ghawiah dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Film produksi Hitmaker Studios ini bisa menjadi pilihan bagi penonton yang ingin menyaksikan kisah horor dengan sentuhan mitos lokal dan teror boneka yang menyimpan masa lalu kelam.