Sinopsis Film Primate: Liburan Tropis Berubah Jadi Teror Simpanse Mematikan
Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Film horor Hollywood terbaru berjudul Primate tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta film. Mengusung konsep teror dari makhluk hidup nyata, film ini menawarkan pengalaman horor yang berbeda dari cerita supranatural pada umumnya. Alih-alih hantu atau roh jahat, Primate menghadirkan ancaman brutal dari seekor simpanse yang berubah menjadi pembunuh mematikan.
Diproduksi oleh Paramount Pictures dan disutradarai Johannes Roberts, Primate resmi tayang di Amerika Utara pada 9 Januari 2026 dan langsung mencatatkan pencapaian impresif di box office. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 Januari 2026.
Menurut laporan Variety, Primate sukses debut di posisi dua box office Amerika Utara dengan pendapatan mencapai US$4,5 juta hanya dari penayangan perdana di 2.964 bioskop. Capaian ini terbilang besar untuk film horor dengan bujet produksi sekitar US$21 juta. Bahkan, film ini hanya kalah dari Avatar: Fire and Ash yang saat itu memuncaki tangga box office.
Performa awal yang kuat ini menegaskan tingginya antusiasme penonton terhadap film horor bertema serangan binatang, khususnya dengan pendekatan realistis dan brutal yang diusung Primate.
Sinopsis: Liburan Tropis yang Berubah Jadi Mimpi Buruk
Cerita Primate berfokus pada Lucy (Johnny Sequoyah), seorang mahasiswi yang pulang ke Hawaii untuk menghabiskan liburan musim panas bersama keluarganya. Ia kembali bertemu sang ayah, Adam (Troy Kotsur), adiknya Erin, serta Ben, simpanse peliharaan keluarga yang selama ini dianggap jinak dan setia.
Masalah muncul ketika Ben digigit hewan liar yang terinfeksi rabies. Tanpa disadari, simpanse tersebut perlahan berubah agresif. Situasi semakin kacau saat Lucy dan teman-temannya menggelar pesta kolam renang di rumah terpencil itu. Dalam sekejap, suasana hangat berubah menjadi arena bertahan hidup.
Terjebak di area kolam renang tanpa akses komunikasi dan jauh dari bantuan, Lucy dan kawan-kawannya harus mengandalkan insting untuk menghindari serangan Ben yang cerdas, cepat, dan mematikan.
Teror Realistis dengan Pesan Sosial
Berbeda dari film horor konvensional, Primate tidak mengandalkan jumpscare berlebihan. Johannes Roberts memilih membangun ketegangan secara perlahan melalui atmosfer sempit, tata suara mencekam, dan rasa tidak aman yang terus meningkat.
Di balik adegan gore yang eksplisit, film ini juga menyelipkan kritik sosial tentang etika memelihara hewan liar sebagai simbol status atau hiburan. Primate mempertanyakan kesombongan manusia yang merasa mampu mengendalikan alam tanpa memahami risikonya.
Selain Johnny Sequoyah dan Troy Kotsur, film ini dibintangi Jessica Alexander, Victoria Wyant, Gia Hunter, Charlie Mann, hingga Kevin McNally. Penampilan para pemain dinilai berhasil menghadirkan emosi panik dan keputusasaan yang terasa manusiawi.
Sosok Ben sendiri menjadi pusat teror yang sulit dilupakan. Tanpa dialog, ekspresi dan gerakannya cukup untuk memicu ketakutan primitif penonton.
Dengan alur yang intens, pesan yang relevan, serta performa box office yang menjanjikan, Primate berpotensi menjadi salah satu film horor paling dibicarakan di awal 2026. Bagi penggemar horor gore dengan sentuhan thriller serangan binatang, film ini layak masuk daftar tontonan wajib di bioskop.