Yosep Anggi Noen Pilih Pendekatan Populer untuk Film Laut Bercerita
Arin Mahesa -
Film Laut Bercerita garapan Yosep Anggi Noen tidak ingin hadir sebagai film sejarah yang terasa berat dan kaku. Adaptasi novel karya Leila S. Chudori ini justru dikemas dengan pendekatan populer agar kisah Biru Laut dan orang-orang di sekitarnya lebih mudah diterima penonton masa kini.
Yosep Anggi Noen mengatakan pendekatan tersebut dipilih untuk membuat cerita berlatar peristiwa 1998 tetap terasa dekat, terutama bagi penonton yang tidak mengalami langsung masa tersebut.
“Pendekatannya populer. Jadi, bukan pendekatan film sejarah yang sangat kaku,” ujar Anggi saat ditemui di Jakarta Selatan, Jumat (21/8/2026).
Mengajak Penonton Masuk Lewat Kisah Personal
Menurut Anggi, sejarah bukan satu-satunya pintu masuk dalam Laut Bercerita. Film ini juga mengandalkan kisah cinta, persahabatan, dan keluarga untuk membangun kedekatan emosional dengan penonton.
Karena itu, perjalanan Biru Laut sebagai aktivis tidak berdiri sendiri. Hubungannya dengan teman-teman, kekasih, adik, serta keluarganya ikut mendapat ruang dalam cerita.
Pendekatan tersebut juga diperkuat melalui musik. Lagu-lagu dari Iwan Fals dan Efek Rumah Kaca digunakan sebagai salah satu penanda zaman sekaligus cara untuk menghubungkan suasana masa lalu dengan penonton hari ini.
Bagi Anggi, elemen budaya populer tersebut penting agar sejarah tidak hanya hadir sebagai informasi, tetapi juga bisa dirasakan melalui pengalaman emosional para karakter.
Cerita Laut dan Mereka yang Ditinggalkan
Dalam proses adaptasi, Anggi bekerja sama langsung dengan Leila S. Chudori untuk mengembangkan novel Laut Bercerita menjadi skenario film. Sejumlah penyesuaian dilakukan agar struktur cerita dapat bekerja lebih baik di layar lebar.
Dua sudut pandang utama dari novel tetap dipertahankan. Bagian pertama mengikuti kehidupan Biru Laut sebagai mahasiswa aktivis hingga dirinya ditangkap dan menghilang. Sementara bagian berikutnya berfokus pada Asmara Jati dan keluarga yang terus mencari jawaban atas hilangnya Laut.
Namun, film memberikan ruang lebih luas kepada persahabatan Laut dan orang-orang terdekatnya. Kisah Ratih Anjani, kekasih Laut, juga dibuat lebih sentral dibandingkan versi novelnya.
Perubahan tersebut memungkinkan penonton melihat bagaimana kehilangan dapat mengubah seseorang. Anjani yang sebelumnya digambarkan ceria dan dekat dengan dunia seni harus menghadapi perubahan besar setelah Laut tidak lagi berada di sisinya.
Asmara Jati, Wajah dari Sebuah Penantian
Yunita Siregar dipercaya memerankan Asmara Jati. Karakter tersebut tidak digambarkan sebagai sosok yang langsung larut dalam emosi. Asmara justru memilih mencerna informasi, menyusun strategi, kemudian bertindak.
Bagi Anggi, penantian Asmara menjadi salah satu bentuk perlawanan. Kesedihan tidak selalu harus ditunjukkan melalui air mata. Terus mencari dan menunggu juga bisa menjadi cara seseorang mempertahankan ingatan terhadap orang yang telah hilang.
Yunita pun melihat pengalaman Asmara sebagai cerita tentang bentuk lain dari cinta. Kehilangan tidak selalu berarti melupakan, tetapi bagaimana seseorang tetap mencintai dan mengenang orang yang sudah tidak lagi hadir.
Dibintangi Reza Rahadian hingga Dian Sastrowardoyo
Laut Bercerita menghadirkan Reza Rahadian sebagai Biru Laut Wibisono dan Yunita Siregar sebagai Asmara Jati. Film ini juga dibintangi Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Kevin Julio, Dewa Dayana, Ben Nugroho, serta sejumlah aktor lainnya.
Dengan memadukan latar sejarah dan cerita personal, Laut Bercerita dijadwalkan tayang di bioskop pada Oktober 2026. Film ini diharapkan menjadi cara baru untuk memperkenalkan kembali kisah tersebut kepada penonton lintas generasi.