Review Agito: Psychic War, Reuni 25 Tahun yang Penuh Nostalgia

-
Review Agito: Psychic War, Reuni 25 Tahun yang Penuh Nostalgia

Setelah 25 tahun, dunia Kamen Rider Agito akhirnya kembali ke layar lebar lewat Agito: Psychic War. Film ini membawa pulang karakter-karakter lama, tetapi tidak sekadar menjual nostalgia. Ceritanya justru menempatkan Makoto Hikawa sebagai pusat konflik ketika manusia dengan kekuatan psikis mulai mengancam keselamatan publik.

Film arahan Ryuta Tasaki dengan naskah Toshiki Inoue ini menjadi bagian dari perayaan 25 tahun Kamen Rider Agito sekaligus 55 tahun waralaba Kamen Rider. Film berdurasi sekitar 97 menit tersebut juga menjadi pembuka proyek The Kamen Rider Chronicle.

Ketika Manusia Mendapat Kekuatan Super

Cerita bermula dari kemunculan sejumlah manusia yang tiba-tiba memiliki kemampuan psikis. Masalahnya, kekuatan tersebut digunakan untuk melakukan kejahatan yang sulit dijelaskan secara logika.

Salah satu kasus bahkan memperlihatkan korban dengan kondisi tubuh yang tidak masuk akal: sebagian membeku, sementara bagian lainnya terbakar. Kepolisian kemudian mengerahkan G Unit untuk menangani kasus tersebut.

Ruriko Aoi menjadi salah satu anggota yang berada di garis depan dengan menggunakan armor G6. Namun, menghadapi manusia berkekuatan super tentu bukan perkara mudah. Peralatan yang dimiliki polisi tidak selalu mampu mengimbangi kekuatan lawan.

Di tengah situasi tersebut, nama Makoto Hikawa kembali muncul. Mantan pengguna G3 itu sedang menjalani hukuman di penjara. Sementara itu, Shoichi Tsugami, sosok yang selama ini dikenal sebagai Kamen Rider Agito, juga sudah kehilangan kekuatannya.

Keduanya akhirnya kembali berhadapan dengan persoalan yang berkaitan dengan evolusi manusia.

Hikawa Bukan Sekadar Karakter Nostalgia

Keputusan menjadikan Hikawa sebagai tokoh utama menjadi salah satu hal paling menarik dari film ini.

Shoichi memang tetap penting, tetapi kali ini cerita lebih banyak berbicara tentang Hikawa. Ia bukan manusia super. Ia juga tidak memiliki kekuatan misterius. Senjata utamanya hanya keberanian, pengalaman, dan keyakinan bahwa sesuatu yang salah tetap harus dilawan.

Pendekatan ini membuat Agito: Psychic War terasa berbeda dari film superhero yang biasanya menjadikan kekuatan sebagai sumber kemenangan.

Nostalgia juga digunakan dengan cukup efektif. Ozawa masih terasa seperti Ozawa yang dulu, Hojo tetap dengan sikapnya yang khas, sementara Shoichi masih memiliki senyum santai yang menjadi cirinya.

Bahkan sejumlah lelucon klasik dari serial televisi kembali muncul. Bukan sekadar tempelan, momen-momen tersebut terasa seperti pengingat bahwa 25 tahun boleh berlalu, tetapi karakter-karakter ini tetap memiliki kepribadian yang sama.

Tidak Selalu Sempurna

Meski punya fondasi cerita yang menarik, Agito: Psychic War masih memiliki beberapa kelemahan.

Tempo cerita terasa cukup cepat, terutama ketika memasuki bagian akhir. Beberapa karakter baru juga belum mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara maksimal. Akibatnya, ada sejumlah konflik yang terasa seperti selesai sebelum benar-benar sempat dieksplorasi.

Dari sisi visual, film ini juga tidak selalu tampil meyakinkan. Beberapa adegan aksi masih terasa seperti produksi tokusatsu dengan keterbatasan efek visual. Pertarungan berskala besar menjelang akhir bahkan terasa kurang cocok dengan identitas Agito yang selama ini kuat pada misteri dan drama karakter.

Namun, kelemahan tersebut tidak sepenuhnya menghapus daya tarik film.

Kesimpulan

Agito: Psychic War paling kuat ketika menjadi cerita tentang manusia biasa yang berusaha melakukan hal yang benar di tengah dunia yang semakin tidak masuk akal.

Film ini memang dibuat untuk merayakan 25 tahun Kamen Rider Agito, tetapi tidak berhenti pada reuni karakter lama. Fokus terhadap Hikawa memberikan napas baru sekaligus mempertahankan semangat serial aslinya.

Buat penggemar lama, film ini menawarkan nostalgia yang cukup tulus. Sementara bagi penonton baru, ceritanya masih bisa dinikmati sebagai film aksi sci-fi tentang kekuatan, evolusi, dan tanggung jawab.

Agito: Psychic War tayang di bioskop Indonesia mulai 26 Agustus 2026. Film ini mungkin bukan film Kamen Rider paling sempurna, tetapi berhasil menjawab satu pertanyaan penting: apakah seseorang tanpa kekuatan super masih bisa menjadi pahlawan? Jawabannya ada pada Hikawa.