Review Paket Santet: Horor Santet yang Dibungkus dengan Konsep Kekinian

-
Review Paket Santet: Horor Santet yang Dibungkus dengan Konsep Kekinian

Paket Santet punya satu ide yang sederhana, tetapi cukup mengganggu: bagaimana jika paket yang kita tunggu-tunggu di depan rumah justru menjadi awal dari teror mematikan? Dari premis tersebut, film garapan Dinna Jasanti ini mencoba menghadirkan horor yang terasa dekat dengan keseharian.

Diproduksi BASE Entertainment, Paket Santet mengikuti tujuh mahasiswa, yakni Deva (Fatih Unru), Bela (Yasamin Jasem), Celia (Gabriella Ekaputri), Ale (Fadly Faisal), Firza (Fiki Naki), Glen (Farandika), dan Kiki (Azela Putri).

Mereka mulai diteror setelah menerima paket yang ternyata berkaitan dengan santet. Ketika kejadian aneh berubah menjadi kematian, ketujuhnya sadar bahwa teror tersebut bukan kebetulan.

Ketika Paket Online Jadi Sumber Teror

Kekuatan utama Paket Santet ada pada premisnya. Film tidak memulai teror dari rumah kosong, kuburan, atau tempat angker, melainkan dari sesuatu yang hampir setiap hari ditemui masyarakat: paket belanja online.

Pendekatan tersebut membuat konsep santet terasa lebih modern tanpa harus meninggalkan akar horor tradisionalnya. Paket yang biasanya identik dengan rasa penasaran dan kegembiraan justru diubah menjadi sesuatu yang membuat penonton waswas.

Di balik teror tersebut, film perlahan mengungkap persoalan yang berkaitan dengan masa lalu para karakter. Luka yang dianggap sudah selesai ternyata belum benar-benar hilang. Dari sini, Paket Santet tidak hanya bicara soal makhluk atau kekuatan gaib, tetapi juga tentang pertemanan, perundungan, rasa bersalah, dan konsekuensi dari tindakan yang pernah dilakukan.

Horornya Menarik, tetapi Belum Maksimal

Dinna Jasanti mencoba menggabungkan horor, thriller, dan drama dalam satu cerita. Perpindahan antarelemen tersebut berjalan cukup mulus. Saat horor mulai berkembang menjadi misteri, film membuat penonton ikut bertanya-tanya siapa sebenarnya yang berada di balik teror.

Masalahnya, film seperti terlalu berhati-hati dalam mengeksplorasi potensi yang dimilikinya.

Beberapa kematian sebenarnya bisa menjadi momen yang jauh lebih brutal. Visualnya sudah cukup berani, tetapi efek gore dan dampak dari sejumlah adegan masih terasa kurang menggigit. Padahal, jika film lebih berani bermain dengan paranoia dan kengerian, pengalaman menontonnya kemungkinan akan terasa lebih intens.

Hal serupa terjadi pada dramanya. Hubungan antarkarakter menjadi bagian penting dalam cerita dan membuat konflik terasa personal. Namun, ada beberapa bagian yang terasa bisa dipadatkan agar teror mendapat ruang lebih besar.

Fatih Unru Jadi Salah Satu Penampil Menonjol

Dari sisi akting, Fatih Unru menjadi salah satu pemain yang paling mencuri perhatian. Sebagai Deva, ia tampil natural tanpa terlihat berusaha terlalu keras untuk menjadi pusat perhatian.

Yasamin Jasem juga menarik karena mampu mempertahankan sisi misterius karakternya. Sementara itu, Gabriella Ekaputri memberikan lapisan emosional yang cukup kuat dan ternyata memiliki peran penting dalam perkembangan cerita.

Di sisi lain, Fiki Naki terasa belum mendapatkan karakter yang cukup kuat untuk memperlihatkan kemampuan aktingnya. Perannya sebenarnya punya potensi, tetapi ruang untuk mengembangkan karakter tersebut masih terbatas.

Kesimpulan

Paket Santet merupakan film horor Indonesia dengan konsep yang terasa segar. Ide mengubah paket online menjadi sumber santet berhasil membuat premisnya dekat dengan kehidupan penonton.

Film ini juga punya perpaduan drama, thriller, dan horor yang cukup solid. Sayangnya, keseimbangan tersebut membuat film terasa sedikit menahan diri, terutama dalam menghadirkan gore dan teror.

Meski belum sepenuhnya maksimal, Paket Santet tetap menawarkan pengalaman horor yang berbeda. Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.