Review Djamin Setia Selamanya: Kisah Pahlawan Karo yang Dibawa ke Layar Lebar
Arin Mahesa -
Film tentang pahlawan nasional biasanya punya tantangan yang sama: bagaimana membuat cerita sejarah tetap menarik tanpa terasa seperti pelajaran di ruang kelas. Djamin Setia Selamanya mencoba menjawab tantangan tersebut dengan membawa sosok Djamin Ginting lebih dekat kepada penonton.
Disutradarai Rako Prijanto, film ini tidak hanya menempatkan Djamin sebagai seorang pejuang yang berada di garis depan. Ceritanya juga memperlihatkan kehidupan pribadi, persahabatan, keluarga, hingga hubungan asmara yang ikut membentuk perjalanan sang tokoh.
Djamin Setia Selamanya membawa penonton mengikuti kehidupan Djamin Ginting sejak muda. Ia sempat mengenyam pendidikan di Handelsschool pada masa kolonial Belanda sebelum bergabung dengan Gyugun ketika Jepang menduduki Indonesia.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal ketika Djamin terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Setelah Proklamasi 1945, ia ikut membentuk Badan Keamanan Rakyat di Kabanjahe dan terjun dalam berbagai pertempuran di Sumatera Utara.
Perang Hanya Salah Satu Bagian Cerita
Menariknya, film ini tidak menjadikan perang sebagai satu-satunya daya tarik. Di antara adegan baku tembak dan perjalanan gerilya, penonton diajak melihat Djamin sebagai seorang manusia.
Ada persahabatan dengan Kadir Saragih, Selamat Ginting, dan Jacob Waas. Ada pula hubungan Djamin dengan perempuan-perempuan yang hadir dalam perjalanan hidupnya.
Kisah dengan Sarita mendapat ruang yang cukup besar, sementara hubungan Djamin dengan Likas Tarigan juga menjadi bagian penting dalam cerita. Pilihan tersebut membuat film terasa lebih ringan karena konflik tidak selalu datang dari medan perang.
Meski begitu, hubungan Djamin dan Likas sebenarnya masih menyimpan ruang untuk digali lebih jauh. Sosok Likas sebagai istri seorang pejuang memiliki cerita tersendiri yang menarik, terutama tentang bagaimana ia menjalani kehidupan ketika Djamin lebih sering berada di tengah perjuangan.
Rafi Sudirman Jadi Djamin
Salah satu hal yang paling menonjol dari film ini adalah penampilan Rafi Sudirman sebagai Djamin Ginting.
Rafi terlihat tidak sekadar memainkan tokoh sejarah. Ia benar-benar berusaha membangun sosok Djamin dari cara berdiri, berjalan, berbicara, hingga tatapan ketika menghadapi situasi tertentu.
Persiapannya pun cukup serius. Rafi melakukan riset mengenai kehidupan Djamin dan menulis buku untuk membantunya memahami karakter yang akan diperankan. Ia juga menjalani latihan fisik, belajar menggunakan senjata, serta mempelajari bahasa Belanda dan dialek Batak Karo.
Usaha tersebut terlihat di layar. Rafi mampu membuat Djamin terasa sebagai manusia yang hidup pada zamannya, bukan anak muda masa kini yang sedang mengenakan kostum era perjuangan.
Adegan Perang yang Tidak Kehilangan Tegangan
Saat cerita masuk ke medan pertempuran, film mampu menjaga tensinya. Adegan perjuangan di tengah hutan menjadi salah satu bagian yang cukup terasa intens, terutama lewat suara tembakan dan pergerakan para pejuang.
Di luar itu, film memang memiliki beberapa detail yang cukup mencolok, seperti kebiasaan merokok para karakter yang muncul berulang kali. Namun, hal tersebut tidak sampai mengganggu keseluruhan cerita.
Pada akhirnya, Djamin Setia Selamanya menawarkan pendekatan yang cukup sederhana terhadap kisah pahlawan. Film ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana Djamin berjuang untuk Indonesia, tetapi juga tentang orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Perpaduan antara sejarah, perang, persahabatan, dan percintaan membuat perjalanan Djamin terasa lebih manusiawi sekaligus mudah diikuti.
Djamin Setia Selamanya dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.