Review Film Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Tak Sekadar Film Petualangan Anak

-
Review Film Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Tak Sekadar Film Petualangan Anak

Film anak tidak harus selalu bercerita tentang sekolah, persahabatan, atau petualangan yang aman-aman saja. Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula mencoba membuktikan hal tersebut dengan membawa isu yang cukup berat ke dalam cerita: bahaya narkoba yang menyasar anak-anak.

Film terbaru garapan Franklin Darmadi ini memang bukan tontonan yang sempurna. Beberapa bagian terasa kurang rapi, terutama dari sisi tempo dan penyuntingan. Namun, Maju punya keberanian untuk menawarkan cerita yang berbeda di tengah pilihan film Indonesia di bioskop yang cukup didominasi genre horor.

Dengan durasi sekitar 98 menit, film produksi Panen Entertainment, Wokcop Pictures, dan Bluesheep Entertainment ini tayang mulai 6 Agustus 2026 dan mendapat klasifikasi Semua Umur.

Berawal dari Teman yang Hilang

Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula mengikuti empat anggota pramuka, Kirana (Princeza Leticia), Hanna (Bebe Gracia), Gerald (Axandro Juliano), dan Bagas (Aradhana Rahadi).

Mereka pergi bersama Pak Wira (Bukie B. Mansyur), guru sekaligus pembina pramuka, menuju Desa Segosari. Tujuannya sederhana: melakukan survei lokasi yang akan digunakan untuk kegiatan Jambore.

Awalnya perjalanan berjalan biasa saja. Anak-anak bercanda, menjalankan tugas, dan mengikuti arahan Pak Wira. Namun, Bagas mulai menunjukkan perilaku yang membuat teman-temannya heran.

Ia merasa tidak enak badan dan memilih tetap berada di mobil ketika rombongan mengunjungi rumah kepala desa.

Ketika Pak Wira dan teman-temannya kembali, Bagas sudah menghilang.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada saksi. Hanya ada potongan kembang gula yang menjadi makanan kesukaannya.

Dari sinilah petualangan dimulai.

Kirana, Hanna, dan Gerald mencoba mencari Bagas. Mereka mengikuti petunjuk yang ada dan perlahan menemukan fakta bahwa hilangnya sahabat mereka ternyata berkaitan dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Permen yang Menyimpan Bahaya

Kembang gula menjadi elemen yang cukup menarik dalam film ini.

Permen biasanya identik dengan sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak. Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula justru menggunakan benda tersebut untuk memperkenalkan ancaman yang tidak terlihat.

Kembang gula yang dikonsumsi Bagas ternyata berkaitan dengan narkoba yang disamarkan dalam bentuk jajanan untuk menyasar anak-anak.

Ide tersebut menjadi salah satu kekuatan utama film. Maju tidak menyampaikan bahaya narkoba hanya lewat nasihat atau dialog yang terasa seperti kampanye. Persoalan tersebut menjadi bagian dari misteri yang harus dipecahkan oleh para tokohnya.

Penonton diajak mengikuti proses pencarian Bagas sambil perlahan memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Pendekatan ini membuat pesan edukasi terasa lebih alami.

Anak-anak dalam film tidak hanya diberi tahu bahwa narkoba itu berbahaya. Mereka diperlihatkan bagaimana sesuatu yang terlihat biasa bisa membawa masalah besar.

Judul Jejak Pahit Si Kembang Gula pun akhirnya terasa semakin masuk akal. Permennya manis, tetapi jejak yang ditinggalkannya justru pahit.

Adit Membawa Cerita tentang Bullying

Selain narkoba, Maju juga memasukkan isu perundungan melalui karakter Adit (Alby Ersani).

Adit merupakan anak desa yang sering menjadi korban bullying dan memiliki kondisi spektrum autisme. Ia awalnya berada di luar kelompok Kirana dan kawan-kawan, tetapi kemudian ikut membantu pencarian Bagas.

Karakter Adit menjadi salah satu bagian yang menarik karena film tidak sekadar mengatakan bahwa bullying adalah sesuatu yang buruk.

Adit justru diperlihatkan sebagai anak yang memiliki kemampuan dan peran penting. Ketika anak-anak lain mulai membutuhkan bantuan, keberadaan Adit menjadi berarti.

Pesannya cukup sederhana: anak yang sering diremehkan bukan berarti tidak memiliki kemampuan.

Pendekatan seperti ini membuat cerita Maju terasa lebih manusiawi. Film tidak hanya berbicara soal kejahatan dan bahaya narkoba, tetapi juga tentang bagaimana anak-anak melihat dan memperlakukan orang lain yang dianggap berbeda.

Para Pemain Muda Cukup Meyakinkan

Chemistry para pemain muda menjadi salah satu kekuatan Maju.

Princeza Leticia, Bebe Gracia, Aradhana Rahadi, dan Axandro Juliano cukup mampu membangun hubungan sebagai empat sahabat. Interaksi mereka terasa ringan dan tidak terlalu dibuat-buat.

Bukie B. Mansyur juga tampil cukup baik sebagai Pak Wira. Ia bisa menunjukkan sosok guru yang tegas, tetapi tetap memiliki kepedulian terhadap murid-muridnya.

Sementara itu, Alby Ersani memberikan warna tersendiri sebagai Adit. Sarah Sechan dan Unang Bagito yang berperan sebagai pasangan kepala desa juga membantu membuat suasana Desa Segosari terasa lebih hidup.

Tidak semua penampilan berada di level yang sama, tetapi secara keseluruhan para pemain mampu menjaga film tetap mudah diikuti.

Sayangnya, Petualangannya Belum Maksimal

Di sinilah Maju mulai menunjukkan kelemahannya.

Premis film sebenarnya cukup menjanjikan. Ada anak hilang, misteri, petunjuk, penculikan, hingga usaha mencari tahu siapa yang berada di balik semuanya.

Namun, alurnya tidak selalu berjalan dengan lancar.

Beberapa adegan terasa terlalu panjang sehingga membuat tempo cerita melambat. Di sisi lain, ada bagian yang justru bergerak terlalu cepat. Perpindahan antarsatu adegan ke adegan berikutnya terkadang juga terasa kurang mulus.

Sebagai film tentang anak-anak pramuka, Maju sebenarnya punya kesempatan untuk membuat petualangannya lebih khas.

Sayangnya, kemampuan pramuka yang dimiliki para karakter tidak terlalu banyak digunakan sepanjang cerita. Padahal, jika keterampilan tersebut lebih sering dimanfaatkan untuk mencari petunjuk atau menghadapi rintangan, perjalanan mereka tentu akan terasa lebih menarik.

Baru menjelang bagian akhir, unsur tersebut mulai terasa. Itu pun belum terlalu banyak.

Bagian klimaks juga terasa cukup terburu-buru. Setelah film membangun misterinya secara perlahan, penyelesaiannya justru bergerak cepat. Meski begitu, adegan ketika Pak Wira dan anak-anak berusaha menyusup ke markas penculik masih mampu memberikan ketegangan yang cukup.

Ada Kekurangan, tetapi Tetap Layak Diapresiasi

Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula jelas bukan film yang tanpa cela. Ritmenya masih naik turun, penyuntingannya belum selalu mulus, dan potensi cerita pramukanya belum digali secara maksimal.

Namun, rasanya kurang adil jika film ini hanya dinilai dari kekurangannya.

Franklin Darmadi mencoba membuat film anak dengan konflik yang tidak terlalu sederhana. Ada narkoba, penculikan, bullying, persahabatan, hingga isu penerimaan terhadap anak yang berbeda.

Yang paling penting, semua itu masih dibungkus dalam bentuk petualangan sehingga tidak terasa seperti film edukasi yang sedang memberikan ceramah kepada penonton.

Film ini juga menjadi karya terbaru Franklin setelah cukup lama tidak menyutradarai film panjang. Sebelumnya, ia dikenal lewat Ekspedisi Madewa (2006) dan Medley (2007).

Maju juga telah mendapat perhatian di festival internasional. Film ini meraih penghargaan Best Feature Film di Moscow International Children's Film Festival dan menjadi nomine Canada International Children Film Festival.

Pada akhirnya, Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula mungkin belum menjadi film petualangan anak yang benar-benar kuat dari sisi teknis. Namun, keberaniannya membawa isu serius ke dalam cerita anak patut dihargai.

Film ini cocok untuk penonton keluarga yang mencari alternatif tontonan di bioskop. Bukan hanya karena ceritanya menghibur, tetapi juga karena ada sejumlah hal yang bisa dibicarakan setelah film selesai.

Tentang persahabatan. Tentang bullying. Tentang keberanian. Dan tentu saja, tentang bahaya yang kadang justru datang dari sesuatu yang terlihat paling biasa.

Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula mungkin belum sempurna, tetapi setidaknya film ini punya sesuatu untuk disampaikan.