Review Film Toko Perlengkapan Mayat: Ketika Kutukan Keluarga Menjadi Sumber Teror yang Sesungguhnya
Kai Renata -
Film horor Indonesia kembali kedatangan judul baru yang menawarkan pendekatan berbeda. Toko Perlengkapan Mayat, yang tayang di bioskop mulai 6 Agustus 2026, tidak hanya mengandalkan penampakan makhluk gaib atau adegan jump scare sebagai daya tarik utama. Disutradarai sekaligus ditulis oleh Surya Darmawan, film produksi YC Entertainment dan Affor Entertainment ini justru membangun teror melalui konflik keluarga, rahasia kelam, serta praktik pesugihan yang meninggalkan kutukan lintas generasi.
Dengan durasi sekitar 79 menit, film ini menyajikan alur yang padat dan nyaris tanpa adegan yang terasa sia-sia. Ceritanya perlahan mengungkap misteri di balik sebuah toko perlengkapan jenazah yang ternyata menyimpan sejarah mengerikan.
Sinopsis: Warisan yang Membawa Petaka
Cerita berpusat pada Daeng Sarro, pemilik toko perlengkapan mayat yang menjadi sumber penghidupan keluarganya selama bertahun-tahun. Setelah kondisi ekonomi memburuk, ia mengambil keputusan yang mengubah hidup seluruh keluarganya. Demi mengembalikan kejayaan usaha warisan tersebut, Daeng Sarro melakukan perjanjian gaib melalui ritual pelaris.
Namun, keberuntungan yang datang ternyata memiliki harga yang sangat mahal. Ritual tersebut menuntut tumbal berupa potongan tubuh manusia, sementara kutukan yang muncul tidak hanya menghantui dirinya, tetapi juga anak dan cucunya.
Situasi semakin mencekam ketika seluruh anggota keluarga berkumpul untuk berkabung setelah kepergian sang istri. Pertemuan yang seharusnya menjadi momen duka berubah menjadi awal dari serangkaian kejadian misterius yang mengungkap dosa masa lalu keluarga Daeng Sarro.
Horor yang Dibangun Lewat Atmosfer
Salah satu keunggulan terbesar Toko Perlengkapan Mayat adalah cara film ini membangun ketegangan. Alih-alih langsung menghadirkan sosok menyeramkan sejak awal, sutradara memilih membiarkan rasa takut tumbuh secara perlahan.
Rumah tua yang menjadi lokasi utama, lorong-lorong sempit, pencahayaan minim, hingga suara-suara asing yang muncul tanpa penjelasan berhasil menciptakan suasana tidak nyaman hampir sepanjang film. Ketika adegan mengejutkan akhirnya muncul, dampaknya terasa lebih efektif karena atmosfer mencekam sudah lebih dulu dibangun dengan konsisten.
Pendekatan seperti ini membuat pengalaman menonton terasa lebih intens dibanding horor yang hanya mengandalkan efek kejut sesaat.
Konflik Keluarga Menjadi Jantung Cerita
Berbeda dengan banyak film horor yang berfokus pada makhluk gaib, Toko Perlengkapan Mayat justru menjadikan hubungan keluarga sebagai kekuatan utama cerita.
Rahasia yang dipendam selama bertahun-tahun, rasa saling curiga antarsaudara, penyesalan, hingga luka lama menjadi elemen yang membuat konflik terasa lebih emosional. Penonton tidak hanya dibuat penasaran terhadap asal-usul kutukan, tetapi juga ikut mengikuti dinamika keluarga yang perlahan retak akibat masa lalu yang terus menghantui.
Pilihan tersebut membuat film memiliki lapisan cerita yang lebih kuat dibanding sekadar menampilkan rangkaian adegan horor.
Unsur Budaya Lokal Menambah Nilai
Film ini juga memasukkan unsur budaya lokal melalui kepercayaan terhadap ritual pesugihan dan praktik ilmu pelaris yang masih dikenal di sejumlah daerah di Indonesia.
Elemen tersebut tidak hadir sebagai pelengkap semata, melainkan menjadi fondasi utama cerita. Kehadiran unsur budaya membuat teror terasa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, sehingga horor yang disajikan memiliki nuansa yang lebih membumi.
Menariknya lagi, demi menghadirkan suasana yang autentik, tim produksi membangun sebuah rumah di tengah hutan sebagai lokasi syuting utama. Upaya tersebut cukup berhasil menghadirkan latar yang terasa sunyi, terisolasi, dan mendukung atmosfer film secara keseluruhan.
Akting yang Mendukung Cerita
Deretan pemain seperti Dwiaffor, Ivana Meylanda, Armhada Sijaya, Bambang Mosaja, hingga Baba Ong mampu menghadirkan dinamika keluarga yang terasa natural.
Masing-masing karakter memiliki beban emosional yang berbeda sehingga penonton dapat memahami alasan di balik tindakan mereka. Chemistry antarpemain juga membantu membuat konflik keluarga terasa lebih hidup, sehingga sisi dramanya tidak kalah kuat dibanding unsur horornya.
Layak Ditonton Pecinta Horor Misteri
Sebagai film horor berdurasi singkat, Toko Perlengkapan Mayat berhasil menjaga ritme cerita tetap padat. Hampir setiap adegan menyimpan petunjuk baru yang perlahan mengarahkan penonton menuju pengungkapan misteri di babak akhir.
Film ini memang bukan horor yang dipenuhi jump scare tanpa henti. Sebaliknya, kekuatannya terletak pada pembangunan atmosfer, misteri yang terus berkembang, serta konflik keluarga yang menjadi inti cerita. Kombinasi tersebut membuat ketegangan terasa lebih konsisten sekaligus memberikan pengalaman menonton yang berbeda.
Bagi penonton yang menyukai film horor dengan unsur pesugihan, kutukan keluarga, dan teka-teki yang perlahan terungkap hingga klimaks, Toko Perlengkapan Mayat layak masuk daftar tontonan. Terornya tidak hanya datang dari sosok gaib, tetapi juga dari konsekuensi atas keserakahan dan rahasia masa lalu yang terus menghantui generasi berikutnya.