Review Film Penunggu Rumah: Buto Ijo, Horor Keluarga dari Legenda Nusantara

Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Review Film Penunggu Rumah: Buto Ijo, Horor Keluarga dari Legenda Nusantara

Film Penunggu Rumah: Buto Ijo hadir sebagai warna baru di industri horor Indonesia awal 2026. Di tengah tren film horor penuh darah dan teror ekstrem, karya terbaru produksi Creator Media Pictures ini justru mengambil jalur berbeda. Disutradarai Achmad Romie Baraba dan diproduseri Gandhi Fernando, film ini mengusung konsep horor atmosferik yang relatif ramah anak, tanpa menghilangkan rasa tegang yang menjadi ciri utama genre tersebut.

Horor Ramah Keluarga yang Tak Biasa

Sejak awal, Penunggu Rumah: Buto Ijo memang dirancang sebagai tontonan horor yang aman dinikmati bersama keluarga. Tidak ada adegan gore atau kekerasan brutal. Ketegangan dibangun lewat suasana sunyi, pencahayaan gelap, serta misteri yang perlahan mengganggu psikologis penonton. Pendekatan ini terasa menyegarkan, terutama bagi keluarga yang ingin menikmati film horor tanpa khawatir anak-anak mengalami trauma berlebihan.

Celine Evangelista yang memerankan Srini bahkan menyebut film ini cocok untuk family time. Pendapat tersebut sejalan dengan visi Gandhi Fernando yang ingin membuktikan bahwa horor tidak selalu harus sadis untuk terasa menegangkan.

Adaptasi Cerita Rakyat dengan Sentuhan Modern

Film ini mengambil inspirasi dari legenda Timun Mas dan sosok Buto Ijo, lalu merekonstruksinya ke dalam konteks modern. Cerita berpusat pada Srini, seorang ibu tunggal yang tinggal bersama putrinya, Tisya, di sebuah rumah tua yang menyimpan rahasia kelam. Gangguan gaib yang mereka alami perlahan mengarah pada sosok Buto Ijo, bukan sekadar monster dongeng, melainkan simbol janji masa lalu yang belum ditepati.

Kehadiran Ali (Gandhi Fernando), seorang konten kreator horor yang juga mantan kekasih Srini, menjadi pemicu konflik utama. Awalnya datang demi bayaran, Ali justru terjebak dalam teror yang jauh dari sekadar konten uji nyali. Dari sinilah film mulai mengupas tema tentang keserakahan, konsekuensi pilihan hidup, dan warisan dosa keluarga.

Akting dan Atmosfer Jadi Kekuatan Utama

Dari sisi akting, Celine Evangelista tampil cukup solid sebagai ibu yang tertekan namun berusaha tegar demi anaknya. Gandhi Fernando memberikan warna sebagai karakter Ali yang skeptis, sementara Valerie Thomas dan Meryem Hasanah menambah dinamika emosional cerita. Sutradara Achmad Romie memilih pendekatan horor atmosferik tanpa jump scare berisik, membuat rasa tidak nyaman hadir perlahan dan membekas.

Visual Buto Ijo digarap dengan kombinasi efek praktikal dan CGI yang cukup meyakinkan, meski di beberapa bagian terasa sederhana. Namun, desain suara dan pemilihan lokasi rumah tua berhasil memperkuat nuansa mencekam, terutama pada adegan malam hari.

Meski menawarkan konsep segar, film ini tidak lepas dari kekurangan. Pacing di awal terasa lambat, beberapa dialog terkesan kaku, dan nuansa visualnya mengingatkan pada film horor Indonesia era 2010-an. Namun, film ini berhasil menutup cerita dengan plot twist yang rapi dan cukup mengejutkan.

Kesimpulan

Penunggu Rumah: Buto Ijo adalah upaya menarik dalam merevitalisasi folklore Nusantara ke layar lebar dengan pendekatan horor yang lebih bersahabat. Film ini cocok bagi penonton yang ingin merasakan ketegangan tanpa teror berlebihan, sekaligus mengenalkan kembali cerita rakyat Indonesia kepada generasi muda. Tayang mulai 15 Januari 2026, film ini layak menjadi alternatif horor keluarga di bioskop dengan nilai hiburan dan pesan moral yang cukup kuat.