Review Gak Ada Matinya: Oki Rengga Terjebak Sandiwara demi Uang Asuransi
Arin Mahesa -
film Gak Ada Matinya menghadirkan komedi gelap tentang seorang anak yang terjebak dalam sandiwara kematian ayahnya demi mendapatkan uang asuransi Rp2 miliar. Dibintangi Oki Rengga dan Mathias Muchus, film ini memadukan humor absurd dengan persoalan keluarga yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Premis Unik tentang Asuransi dan Hubungan Ayah-Anak
Film Gak Ada Matinya berpusat pada Binsar (Oki Rengga), seorang pria yang sedang mengalami kesulitan ekonomi setelah kehilangan pekerjaan. Di tengah tekanan cicilan rumah yang terus berjalan, ia mendapat kabar bahwa ayahnya, Luhut (Mathias Muchus), meninggal dunia.
Hubungan Binsar dan Luhut memang tidak harmonis. Ada persoalan masa lalu yang membuat Binsar menyimpan kemarahan terhadap sang ayah, terutama keputusan Luhut menjalani poligami.
Namun, kabar kematian tersebut justru membawa harapan baru bagi Binsar. Ia mengetahui bahwa Luhut memiliki asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan mencapai Rp2 miliar. Uang tersebut dianggap bisa menyelesaikan berbagai masalah keuangan yang sedang dihadapinya.
Sayangnya, harapan itu langsung berantakan ketika Luhut mendadak hidup kembali dalam perjalanan menuju rumah duka. Ternyata, ia hanya mengalami mati suri.
Binsar pun berusaha menyembunyikan kenyataan tersebut agar klaim asuransi tetap bisa dicairkan. Rencananya semakin sulit setelah Viona (Mikha Tambayong), saudara tirinya, datang dan Fahri (Fedi Nuril), seorang investigator asuransi, mulai mencurigai kejanggalan dalam proses klaim.
Komedi Absurd yang Didukung Penampilan Para Pemain
Salah satu kekuatan Gak Ada Matinya terletak pada keberhasilannya mengolah situasi serius menjadi rangkaian kejadian konyol. Premis tentang seseorang yang harus menyembunyikan ayahnya sendiri demi uang asuransi memberikan banyak ruang bagi komedi situasi.
Oki Rengga tampil meyakinkan sebagai Binsar yang terus berada dalam tekanan. Interaksinya dengan Mathias Muchus juga menjadi salah satu daya tarik, terutama ketika konflik keduanya mulai berkembang ke arah yang tidak terduga.
Ghita Bhebhita dan Lolox turut memberikan warna melalui karakter masing-masing. Sementara itu, kemunculan Fedi Nuril sebagai Fahri menjadi salah satu elemen komedi yang menarik. Perannya sebagai investigator asuransi menghadirkan sentuhan humor meta yang memanfaatkan citra peran-peran terdahulunya.
Meski begitu, perpindahan dinamika hubungan Binsar, Luhut, dan Viona terkadang terasa terburu-buru. Beberapa konflik emosional juga belum mendapatkan ruang pengembangan yang cukup sehingga dampak dramatisnya tidak selalu terasa kuat.
Drama Keluarga di Balik Kelucuan
Di balik berbagai kekacauan, film arahan Etienne Caesar ini turut membicarakan hubungan orang tua dan anak, luka masa lalu, serta sulitnya memaafkan kesalahan keluarga.
Menariknya, film ini tidak berusaha membenarkan keputusan Luhut hanya demi menghadirkan akhir cerita yang menyentuh. Konflik tersebut justru memperlihatkan bahwa memaafkan tidak selalu berarti melupakan kesalahan seseorang.
Secara keseluruhan, Gak Ada Matinya menawarkan hiburan melalui premis segar, komedi situasi, dan jajaran pemain yang mampu menghidupkan cerita. Walaupun pengembangan drama keluarganya belum sepenuhnya maksimal, film ini tetap menjadi tontonan menarik bagi pencinta komedi Indonesia.
Gak Ada Matinya disutradarai Etienne Caesar dan diproduseri Manoj Punjabi bersama Muhadkly Acho. Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 5 November 2026 dengan klasifikasi usia 13 tahun ke atas.