Review Putri Jangan Gentayangan Lagi, Teror Arwah di Balik Tragedi Keluarga
Arin Mahesa -
Film horor Indonesia Putri Jangan Gentayangan Lagi tidak hanya menawarkan teror arwah penasaran, tetapi juga mengangkat persoalan keluarga yang menjadi akar dari tragedi. Diadaptasi dari kisah nyata yang sempat viral di kanal YouTube Lentera Malam, film ini memadukan misteri kematian, dendam, dan hubungan orang tua dengan anak.
Disutradarai Rizal Mantovani, film produksi MVP Pictures bersama Folago Pictures, PK Films, dan SHOW Token ini mencoba menghadirkan horor yang tidak berhenti pada kemunculan hantu dan adegan jumpscare. Konflik keluarga menjadi bagian penting yang menggerakkan cerita, sekaligus memberikan alasan di balik teror yang dialami para karakternya.
Sinopsis Putri Jangan Gentayangan Lagi
Cerita berpusat pada Mak Eli (Kinaryosih), seorang pengemudi ojek online yang harus bekerja keras untuk menghidupi ketiga anaknya. Kehidupan keluarga tersebut mulai berubah ketika Putri (Kawai Labiba), anak sulungnya, pulang ke rumah dengan membawa seorang bayi dalam kondisi sakit parah.
Nahas, bayi tersebut akhirnya meninggal dunia. Peristiwa itu menjadi awal dari rangkaian kejadian tragis yang menimpa keluarga Mak Eli. Situasi semakin rumit setelah Putri juga meninggal dunia dalam keadaan mengenaskan.
Namun, kematian bukan akhir dari kisah Putri. Arwahnya justru kembali dan mulai meneror keluarga serta warga sekitar. Kehadirannya membawa ketakutan, sekaligus menyimpan kemarahan yang belum terjawab.
Mak Eli harus mencari cara untuk melindungi anak-anaknya dari gangguan tersebut. Di sisi lain, Wira (Fadi Alaydrus), sosok yang dekat dengan Putri, ikut berusaha mengungkap misteri di balik kematian perempuan itu. Ada rahasia masa lalu yang perlahan terkuak dan menjadi kunci untuk memahami teror yang terjadi.
Mengandalkan Tragedi Keluarga sebagai Sumber Teror
Hal menarik dari Putri Jangan Gentayangan Lagi adalah pilihan ceritanya yang menempatkan persoalan keluarga sebagai fondasi horor. Teror tidak muncul begitu saja, melainkan berawal dari serangkaian peristiwa yang melibatkan orang-orang terdekat Putri.
Pendekatan ini memberikan ruang bagi cerita untuk membangun rasa penasaran. Penonton tidak hanya dibuat bertanya kapan sosok arwah akan muncul, tetapi juga apa yang sebenarnya terjadi sebelum Putri meninggal dunia.
Kehadiran Mak Eli juga memberikan sudut pandang berbeda. Sebagai seorang ibu yang harus menghidupi tiga anaknya, ia dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih besar daripada kemampuan dirinya. Konflik tersebut membuat ancaman supranatural terasa semakin dekat dengan kehidupan keluarga yang menjadi pusat cerita.
Film ini juga berusaha memberikan bobot emosional melalui isu parenting dan komunikasi antara orang tua dengan anak. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan dalam keluarga tidak seharusnya dianggap sepele karena bisa meninggalkan dampak panjang bagi setiap anggotanya.
Meski demikian, daya tarik utama film tetap berada pada perpaduan misteri dan teror arwah yang menjadi penggerak cerita.
Tantangan Kawai Labiba Memerankan Sosok Arwah
Dari sisi pemain, Kawai Labiba menghadapi tantangan tersendiri saat memerankan Putri. Ini menjadi pengalaman pertamanya memainkan karakter arwah dalam sebuah film.
Ia bahkan harus menggunakan kontak lensa putih selama sekitar 60 persen proses syuting. Penggunaan lensa tersebut membuat penglihatannya terbatas dan menyulitkannya beraktivitas selama berada di lokasi produksi.
Selain Kawai, film ini turut dibintangi Kinaryosih, Fadi Alaydrus, dan Rizky Hanggono.
Dengan durasi 104 menit, Putri Jangan Gentayangan Lagi menjadi pilihan bagi penonton yang menyukai horor supranatural dengan bumbu drama keluarga. Film ini tayang di bioskop Indonesia mulai 5 November 2026.