Review Greenland 2: Migration, Perjuangan Keluarga Garrity di Dunia Pasca-Kiamat

Tim Teaterdotco - Kamis, 8 Januari 2026 08:32 WIB
Review Greenland 2: Migration, Perjuangan Keluarga Garrity di Dunia Pasca-Kiamat

Setelah sukses menghadirkan ketegangan menjelang akhir dunia lewat Greenland (2020), Ric Roman Waugh kembali melanjutkan kisah keluarga Garrity dalam Greenland 2: Migration. Sekuel ini tidak lagi berbicara tentang kepanikan menghadapi kiamat, melainkan tentang kehidupan setelah bencana benar-benar terjadi. Sebuah tema yang terasa lebih dekat, lebih sunyi, dan dalam banyak momen, justru lebih menggetarkan.

Dunia Sudah Hancur, Hidup Harus Jalan Terus

Film ini mengambil latar beberapa tahun setelah komet Clarke menghantam Bumi. John Garrity (Gerard Butler), Allison (Morena Baccarin), dan Nathan (Roman Griffin Davis) selamat berkat bunker di Greenland. Namun, tinggal di bawah tanah bukan solusi selamanya. Ketika bunker mulai tak lagi aman, mereka dipaksa keluar dan menghadapi dunia yang nyaris tak bisa dikenali.

Kota-kota besar tenggelam, daratan retak, cuaca ekstrem terjadi tanpa pola, dan manusia yang tersisa hidup dalam kondisi serba terbatas. Dari sinilah perjalanan migrasi dimulai. Keluarga Garrity harus menempuh rute berbahaya melintasi Eropa yang hancur, dengan harapan menemukan wilayah baru di sekitar Kawah Clarke, lokasi jatuhnya komet yang diyakini masih menyimpan peluang kehidupan.

Ancaman Tidak Meledak-ledak, Tapi Terasa Menekan

Berbeda dari film pertama yang dipenuhi kepanikan dan bencana besar bertubi-tubi, Greenland 2: Migration memilih pendekatan yang lebih tenang. Bukan berarti ancaman berkurang. Justru sebaliknya, bahaya hadir terus-menerus dalam bentuk tekanan yang konsisten: gempa susulan, badai radiasi, keterbatasan logistik, hingga konflik dengan kelompok penyintas lain.

Film ini terasa ingin mengatakan bahwa hidup setelah kiamat bukan soal satu peristiwa besar, melainkan rangkaian masalah kecil dan besar yang datang silih berganti. Meski di beberapa bagian konflik terasa terlalu sering muncul, pendekatan ini tetap terasa relevan dengan gambaran dunia yang sudah kehilangan tatanan.

Keluarga Garrity Tetap Jadi Jantung Cerita

Kekuatan utama Greenland 2: Migration masih bertumpu pada hubungan keluarga. Gerard Butler kembali memerankan John sebagai ayah yang protektif dan realistis, tanpa dibuat berlebihan sebagai pahlawan super. Morena Baccarin memberi kedalaman emosional sebagai Allison, sementara Roman Griffin Davis menghadirkan sosok Nathan yang mulai lelah hidup dalam keterbatasan dan penuh pertanyaan tentang masa depan.

Relasi mereka terasa alami dan menjadi penyeimbang di tengah dunia yang kejam. Penonton diajak merasakan bahwa bertahan hidup bukan hanya soal fisik, tapi juga menjaga keluarga tetap utuh secara emosional.

Visual Meyakinkan, Logika Masih Bisa Diperdebatkan

Dari sisi visual, efek CGI bencana tampil rapi dan cukup meyakinkan, didukung musik latar yang efektif membangun suasana tegang. Namun, seperti film bencana pada umumnya, ada sejumlah hal yang mengundang tanda tanya. Mulai dari masih berfungsinya banyak kendaraan, hingga bagaimana manusia bisa bertahan hidup relatif sehat setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan ekstrem.

Meski demikian, alur ceritanya tetap mengalir dengan baik. Film ini memang sedikit lambat di awal, tetapi intensitasnya meningkat menjelang paruh akhir hingga penutup yang meninggalkan rasa campur aduk.

Sekuel yang Aman, Tapi Tetap Relevan

Greenland 2: Migration bukan sekuel yang mencoba tampil lebih besar atau lebih spektakuler. Film ini memilih jalur aman dengan melanjutkan apa yang sudah dibangun film pertama: kisah keluarga biasa di tengah situasi luar biasa. Hasilnya adalah tontonan yang manusiawi, relevan, dan tetap menegangkan.

Bagi penonton yang menyukai Greenland, sekuel ini terasa seperti perjalanan lanjutan yang wajar dan cukup memuaskan. Sebuah pengingat bahwa setelah kiamat, tantangan terbesar manusia bukan hanya bertahan hidup, tetapi menemukan kembali arti rumah.