Review Its My Time: Michelle Yeoh Buktikan Usia Bukan Batas untuk Jadi Juara Rubik

-
Review Its My Time: Michelle Yeoh Buktikan Usia Bukan Batas untuk Jadi Juara Rubik

Michelle Yeoh tampil berbeda dalam It's My Time. Ia memerankan nenek 70 tahun yang keras kepala, suka bikin masalah, tetapi ternyata punya kemampuan luar biasa dalam menyelesaikan Rubik.

Film garapan Bai Xue ini memang tidak menawarkan cerita yang sepenuhnya baru. Pola tentang seseorang yang diremehkan, menemukan bakat, lalu berjuang di arena kompetisi sudah sering digunakan. Namun, It's My Time punya satu kartu andalan yang membuatnya tetap menarik: Michelle Yeoh sebagai nenek yang sama sekali tidak mau terlihat tua.

Michelle Yeoh Jadi Nenek yang Tak Mau Menyerah

Dalam film ini, Yeoh berperan sebagai Zhao Yanhong, perempuan berusia 70 tahun yang tinggal di sebuah panti jompo. Yanhong bukan tipe nenek yang senang duduk tenang menikmati masa tua.

Ia justru dikenal keras kepala, ceplas-ceplos, dan sering membuat keributan. Aturan di panti jompo pun tidak selalu dianggap penting olehnya. Sikap tersebut membuat Yanhong terasa lebih seperti sosok pemberontak daripada karakter lansia yang biasanya digambarkan lembut dan penuh kebijaksanaan.

Kehidupannya mulai berubah ketika ia menyadari punya kemampuan alami bermain Rubik. Yanhong mampu menyelesaikan kubus tersebut dalam waktu sangat singkat.

Dari sinilah cerita It's My Time mulai menemukan bentuknya. Kemampuan yang awalnya hanya dianggap sebagai hobi ternyata membuka kesempatan bagi Yanhong untuk kembali memiliki tujuan dalam hidup.

Pertemuan dengan Mantan Juara Dunia

Perjalanan Yanhong kemudian bertemu dengan Wu Youwei yang diperankan Liu Haoran. Youwei merupakan mantan juara dunia Rubik yang kini justru sedang mengalami keterpurukan.

Pertemuan keduanya menjadi salah satu bagian paling menarik dalam film. Youwei akhirnya menjadi mentor Yanhong dan membantu mengasah kemampuannya untuk mengikuti kompetisi.

Namun, hubungan mereka tidak berjalan seperti pola mentor dan murid pada umumnya. Yanhong bukan murid yang mudah diatur. Usianya memang jauh lebih tua, tetapi justru dialah yang sering membuat Youwei kewalahan.

Chemistry Michelle Yeoh dan Liu Haoran membuat bagian ini terasa ringan dan menghibur. Sayangnya, porsi Liu Haoran terasa lebih sedikit dibandingkan Michelle Yeoh. Padahal, kisah keterpurukan Youwei sebenarnya punya ruang untuk dikembangkan lebih jauh.

Bukan Sekadar Film tentang Rubik

Rubik hanya menjadi pintu masuk bagi It's My Time untuk membicarakan hal yang lebih besar, yakni kesempatan kedua.

Yanhong harus berhadapan dengan anggapan bahwa orang lanjut usia sudah tidak lagi punya tempat untuk berprestasi. Ketika kemampuannya bermain Rubik mulai menarik perhatian, ia bahkan dimanfaatkan sebagai materi promosi untuk mendulang popularitas.

Di titik ini, film cukup berhasil menyentil bagaimana usia sering dijadikan alasan untuk meremehkan seseorang. Yanhong justru membuktikan bahwa kemampuan tidak otomatis hilang hanya karena seseorang bertambah tua.

Film juga tidak menjadikan Yanhong sebagai sosok sempurna. Ia bisa kasar, menyebalkan, bahkan egois. Justru sisi itulah yang membuat karakternya terasa lebih manusiawi.

Formula Lama yang Masih Bekerja

Sebagai film kompetisi, It's My Time tetap mengikuti formula yang cukup familiar. Ada latihan, kegagalan, persaingan, rivalitas dan pertandingan besar sebagai penentu.

Beberapa adegan latihan bahkan terasa seperti film olahraga pada umumnya. Namun, penggunaan Rubik membuat proses tersebut punya daya tarik tersendiri. Penonton diajak melihat bagaimana Yanhong berusaha mengasah kemampuan tangannya hingga siap menghadapi lawan yang lebih muda.

Klimaksnya membawa Yanhong ke panggung kejuaraan dunia. Tantangan semakin menarik ketika kompetisi dilakukan dengan mata tertutup. Adegan tersebut menjadi salah satu momen yang cukup efektif untuk mengunci perjalanan Yanhong.

Review It's My Time

It's My Time memang bukan film kompetisi yang revolusioner. Ceritanya masih menggunakan formula underdog yang sudah sangat dikenal. Beberapa bagian juga terasa terlalu mudah ditebak.

Namun, film ini punya hati. Michelle Yeoh membuat Yanhong terasa hidup sebagai nenek yang keras kepala tetapi tetap punya keinginan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Pada akhirnya, It's My Time bukan semata-mata film tentang Rubik atau ambisi menjadi juara dunia. Film ini berbicara tentang kesempatan untuk memulai lagi, bahkan ketika banyak orang menganggap kesempatan itu sudah lewat.

Ringan, hangat, dan sesekali kocak, It's My Time menjadi tontonan yang cukup menyenangkan untuk melihat Michelle Yeoh dalam peran yang tidak biasa.