Review Iyus Jenius, Ketika Lagu Anak Papa T. Bob Menemani Kisah Kehilangan
Arga Pratama -
Di tengah bioskop Indonesia yang belakangan banyak dipenuhi film horor, Iyus Jenius datang dengan sesuatu yang terasa berbeda. Film musikal anak ini membawa nostalgia lagu-lagu Papa T. Bob sekaligus bercerita tentang seorang anak yang harus belajar menerima kehilangan orang yang paling disayanginya.
Iyus Jenius mengikuti kehidupan Iyus (Kevin Abadio), bocah 10 tahun yang begitu dekat dengan ayahnya, Babah Hartono (Brian Mahesa). Kebahagiaan Iyus menjelang ulang tahun berubah menjadi duka ketika sang ayah meninggal dunia dalam kecelakaan saat perjalanan pulang.
Bagi Iyus, kehilangan tersebut bukan sekadar membuat rumah terasa sepi. Ia juga kehilangan semangat belajar dan perlahan menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Situasi itu semakin berat ketika ia melihat teman-temannya masih bisa diantar dan dijemput oleh ayah mereka.
Teman Imajiner yang Mengubah Hidup Iyus
Kehadiran Babah T. Bob menjadi titik penting dalam cerita. Sosok misterius yang hanya bisa dilihat Iyus tersebut muncul setelah sang anak mengalami kecelakaan.
Menariknya, Babah T. Bob bukan sekadar karakter fantasi untuk menghidupkan cerita. Sosok ini menjadi representasi dari kebutuhan Iyus terhadap figur yang bisa mendengarkan, menemani, sekaligus membuatnya kembali percaya pada dirinya sendiri.
Dari sini, film mulai bergerak ke persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan anak-anak. Iyus harus menghadapi perundungan di sekolah dan teman-teman yang ternyata hanya mendekatinya karena ingin memanfaatkan kepintarannya.
Konflik tersebut menjadi salah satu bagian yang cukup kuat. Iyus Jenius tidak hanya berbicara soal kehilangan, tetapi juga mengajak anak memahami bahwa tidak semua orang yang datang sebagai teman benar-benar memiliki niat baik.
Nostalgia Lagu Papa T. Bob
Daya tarik terbesar film ini tentu saja berada pada musiknya. Lagu-lagu karya Papa T. Bob seperti Diobok-obok, Jangan Marah, dan Katanya kembali terdengar dengan aransemen yang lebih modern.
Bagi penonton yang tumbuh pada era 1990-an, lagu-lagu tersebut kemungkinan menjadi bagian paling menyenangkan dari pengalaman menonton. Sementara bagi anak-anak masa kini, film ini berusaha memperkenalkan kembali lagu anak Indonesia yang pernah sangat populer.
Walkman dan kaset yang menjadi bagian dari cerita juga bekerja cukup efektif sebagai pengikat antara musik dan kenangan Iyus terhadap ayahnya. Ada rasa nostalgia yang sengaja dibangun, tetapi tetap memiliki fungsi dalam perjalanan emosional karakter.
Sayangnya, konsep menarik tersebut belum selalu diikuti eksekusi yang sama kuat. Akting sejumlah pemain anak masih terlihat kaku, terutama dalam adegan yang membutuhkan ekspresi emosional atau ketika harus berpindah dari dialog menuju koreografi musikal.
Dialognya pun terkadang terasa terlalu baku. Gaya tutur seperti ini memang mendukung nuansa nostalgia yang ingin dibangun, tetapi di beberapa bagian justru membuat film terasa kurang natural untuk penonton masa kini.
Meski begitu, kekurangan tersebut masih bisa ditoleransi, terutama karena sebagian pemainnya merupakan pendatang baru di layar lebar.
Pada akhirnya, Iyus Jenius adalah film keluarga yang datang dengan niat sederhana tetapi penting: menghadirkan kembali film anak sekaligus mengingatkan bahwa anak juga membutuhkan ruang untuk berduka, didengar, dan tumbuh dengan percaya diri.
Film ini mungkin belum sempurna dari sisi eksekusi, tetapi kehangatan ceritanya cukup terasa. Lebih dari sekadar nostalgia lagu Papa T. Bob, Iyus Jenius menawarkan kisah tentang kehilangan, persahabatan, dan keberanian seorang anak untuk kembali menjalani hidup.