Review Pirunduk, Kisah Tragis Perempuan yang Terjerat Ilmu Hitam

-
Review Pirunduk, Kisah Tragis Perempuan yang Terjerat Ilmu Hitam

Film Pirunduk karya sutradara Billy Christian mengangkat urban legend masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, melalui kisah perempuan yang terjebak dalam pernikahan penuh kekerasan. Berlatar era 1980-an, film horor ini memadukan tragedi rumah tangga, praktik ilmu hitam, dan kentalnya budaya lokal.

Sinopsis Film Pirunduk

Cerita berpusat pada Siti (Aulia Sarah), perempuan cerdas yang memiliki keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan. Namun, cita-citanya harus terhenti ketika ia menerima pinangan Badarudin (Bucek Depp), seorang juragan kaya yang bersedia melunasi utang ayahnya.

Keputusan tersebut membawa Siti memasuki kehidupan rumah tangga yang jauh dari harapannya. Awalnya, Badarudin memperlakukannya dengan baik dan berharap mereka segera memiliki anak. Namun, setelah dua tahun pernikahan tanpa kehadiran buah hati, sikap Badarudin berubah dingin. Ia bahkan melakukan kekerasan terhadap Siti.

Penderitaan Siti semakin berat setelah ayahnya meninggal dunia. Di saat yang sama, Badarudin justru tertarik kepada perempuan lain bernama Ratih (Yoriko Angeline) dan menjadikannya istri muda.

Merasa kehilangan satu-satunya tempat bergantung, Siti mulai mencari cara untuk merebut kembali perhatian suaminya. Ramlan (Alam Jaya), orang kepercayaan Badarudin, kemudian memberitahunya tentang seorang dukun perempuan yang mampu membantu melalui ilmu hitam bernama Pirunduk.

Siti akhirnya menjalani serangkaian ritual dengan harapan dapat mengembalikan kasih sayang suaminya. Keputusannya sempat membuahkan hasil, tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sebuah tragedi mengubah nasib Siti dan menyeret orang-orang di sekitarnya ke dalam teror mengerikan.

Horor dengan Akar Budaya Banjar

Salah satu daya tarik Pirunduk terletak pada keberaniannya mengangkat legenda lokal yang belum banyak dieksplorasi dalam film horor Indonesia. Alih-alih mengandalkan mitologi Jawa yang lebih sering muncul di layar lebar, film ini menggali kepercayaan masyarakat Banjar terhadap ilmu hitam Pirunduk.

Penggunaan bahasa Banjar secara konsisten turut memperkuat suasana cerita. Unsur budaya tersebut tidak sekadar menjadi latar, tetapi menyatu dengan konflik dan perkembangan kisah Siti. Keterlibatan sineas serta pemain yang memiliki kedekatan dengan Kalimantan Selatan juga mendukung upaya menghadirkan identitas lokal.

Melodrama yang Berujung Teror

Di balik unsur mistisnya, Pirunduk menempatkan penderitaan perempuan sebagai fondasi cerita. Siti bukan sekadar tokoh yang mencari kekuatan supranatural, melainkan sosok yang terdesak oleh tekanan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, dan ketakutan kehilangan pasangan.

Kehadiran Aulia Sarah sebagai Siti menjadi pusat konflik emosional, sementara Yoriko Angeline menghadirkan karakter Ratih yang memperkeruh hubungan antartokoh. Perbedaan posisi kedua perempuan ini menambah lapisan persoalan dalam rumah tangga Badarudin.

Meski demikian, kekuatan cerita tidak hanya bergantung pada kemunculan teror, tetapi juga pada bagaimana tragedi Siti berkembang menjadi ancaman bagi lingkungan sekitarnya. Perpaduan drama rumah tangga dan horor folklor memberikan pendekatan berbeda dibandingkan film yang semata-mata mengandalkan kejutan.

Secara keseluruhan, Pirunduk menawarkan kisah horor dengan identitas budaya yang kuat dan konflik manusiawi sebagai penggerak cerita. Film ini menarik bagi penonton yang mencari horor Indonesia dengan sentuhan legenda daerah sekaligus drama tentang penderitaan perempuan. Pirunduk dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.