Review Supergirl (2026): Misi Balas Dendam di Tengah Galaksi
Arin Mahesa -
Era baru DC Universe mulai menunjukkan arah yang semakin jelas lewat kehadiran film Supergirl. Setelah sukses membuka semesta baru melalui Superman, kali ini giliran Kara Zor-El tampil sebagai pusat cerita dalam petualangan antargalaksi yang jauh lebih liar, emosional, dan brutal.
Disutradarai oleh Craig Gillespie dan diproduseri James Gunn bersama Peter Safran, film ini mengadaptasi komik terkenal Supergirl: Woman of Tomorrow karya Tom King dan Bilquis Evely. Hasilnya adalah film superhero dengan nuansa space western yang terasa berbeda dibandingkan kebanyakan film DC maupun Marvel beberapa tahun terakhir.
Sinopsis Supergirl: Misi Balas Dendam di Tengah Galaksi
Film mengikuti perjalanan Kara Zor-El yang masih belum menemukan tempatnya di Bumi. Berbeda dengan Clark Kent yang tumbuh sebagai simbol harapan, Kara justru membawa trauma mendalam akibat kehancuran Krypton yang ia saksikan sendiri sejak kecil.
Di tengah perjalanan ulang tahunnya bersama Krypto, Kara bertemu Ruthye Marye Knoll, gadis muda yang ingin membalas dendam kepada Krem, pemimpin kelompok Brigands yang membunuh keluarganya dan menculik anak-anak perempuan di berbagai planet.
Masalah semakin rumit ketika Krypto diracuni oleh Krem. Demi menyelamatkan anjing kesayangannya sekaligus membantu Ruthye, Kara memulai perjalanan berbahaya melintasi berbagai galaksi, menghadapi kelompok kriminal, alien brutal, hingga pemburu bayaran legendaris bernama Lobo.
Supergirl Bukan Superman Versi Wanita
Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah keberhasilannya membentuk identitas Kara sebagai karakter yang benar-benar berbeda dari Superman.
Jika Clark Kent dikenal penuh harapan, lembut, dan optimistis, Kara tampil jauh lebih emosional, impulsif, dan kasar. Ia tidak ragu menggunakan kekerasan ketika keadaan mendesak. Trauma kehilangan keluarganya membuat Kara tumbuh menjadi sosok yang sinis dan sulit percaya kepada orang lain.
Penampilan Milly Alcock menjadi alasan utama kenapa karakter ini terasa hidup. Bintang serial House of the Dragon tersebut sukses membawakan sisi rebel, rapuh, sekaligus sarkastik dari Kara Zor-El.
Chemistry Milly Alcock dengan David Corenswet sebagai Superman juga terasa natural. Hubungan mereka benar-benar terasa seperti keluarga yang sama-sama kehilangan rumah, tetapi memiliki cara berbeda dalam menghadapi trauma.
Nuansa Guardians of the Galaxy yang Kental
Banyak penonton membandingkan film ini dengan Guardians of the Galaxy, dan memang pengaruh gaya James Gunn terasa sangat kuat.
Mulai dari soundtrack klasik yang catchy, humor absurd, visual planet-planet unik, hingga adegan slow motion penuh gaya, semuanya mengingatkan pada petualangan kosmik ala Marvel tersebut. Bedanya, Supergirl punya tone yang lebih gelap dan emosional.
Film ini membawa penonton menjelajahi berbagai dunia futuristis dengan nuansa koboi luar angkasa yang cukup jarang muncul di genre superhero modern. Ada bar antargalaksi, wilayah tandus seperti Mad Max, hingga kota-kota alien dengan desain visual yang menarik.
Walaupun visualnya belum bisa disebut revolusioner, kualitas CGI dan sinematografinya tetap terasa rapi dan memanjakan mata, terutama saat menampilkan pertarungan di luar angkasa.
Jason Momoa Jadi Scene Stealer Sebagai Lobo
Satu nama yang paling banyak mencuri perhatian jelas adalah Jason Momoa sebagai Lobo.
Meski durasinya tidak terlalu panjang, setiap kemunculan Lobo selalu berhasil mencuri fokus. Karakter barbar brutal asal Czarnia itu tampil liar, kocak, kasar, tetapi tetap karismatik. Banyak penggemar bahkan menyebut peran ini jauh lebih cocok untuk Momoa dibandingkan Aquaman di era DCEU sebelumnya.
Aksi Lobo bersama kendaraan Spacehog miliknya menjadi salah satu highlight terbesar film ini.
Angkat Isu Trauma dan Feminisme
Di balik aksi dan humor, Supergirl juga menyimpan tema yang cukup emosional. Film ini banyak berbicara tentang trauma healing dan pencarian jati diri.
Kara digambarkan masih dihantui kematian keluarganya dan kehancuran Krypton. Ia mencoba melarikan diri melalui alkohol dan kehidupan liar di luar angkasa. Namun sepanjang perjalanan, Kara perlahan belajar menerima masa lalunya dan memahami arti menjadi pahlawan.
Selain itu, film juga menyentuh isu feminisme melalui kelompok Brigands yang kerap menculik perempuan untuk dijadikan komoditas dan alat regenerasi kelompok mereka. Kara dan Ruthye menjadi simbol perlawanan terhadap sistem tersebut.
Pacing dan Villain Jadi Titik Lemah
Meski menawarkan petualangan yang menghibur, Supergirl tetap memiliki sejumlah kekurangan.
Pacing film terasa tidak konsisten, terutama di pertengahan cerita ketika ritme mulai melambat karena terlalu fokus pada perjalanan antarkarakter. Sementara itu, babak akhir justru terasa terburu-buru dalam menyelesaikan konflik.
Karakter Krem sebagai villain utama juga kurang meninggalkan kesan kuat. Motivasi dan kedalaman emosinya terasa underdeveloped sehingga gagal menjadi ancaman yang benar-benar memorable.
Apakah Supergirl Layak Ditonton?
Meski belum sekuat Superman dalam membangun cerita emosional dan konflik besar, Supergirl tetap menjadi tambahan menarik bagi DC Universe baru racikan James Gunn.
Film ini menawarkan kombinasi aksi kosmik, humor, drama keluarga, dan pencarian identitas yang cukup segar untuk genre superhero saat ini. Penampilan Milly Alcock sebagai Supergirl dan Jason Momoa sebagai Lobo menjadi alasan terbesar kenapa film ini tetap sangat menghibur.
Bagi penggemar DC Comics, khususnya pembaca komik Supergirl: Woman of Tomorrow, film ini jelas wajib masuk daftar tontonan. Sementara untuk penonton umum, Supergirl adalah petualangan superhero yang ringan, emosional, dan tetap seru diikuti dari awal hingga akhir.