Review The Social Reckoning, Ungkap Sisi Gelap Media Sosial
Arga Pratama -
The Social Reckoning menghadirkan thriller investigasi tentang sisi gelap media sosial melalui kisah Frances Haugen yang membongkar persoalan internal Facebook. Film garapan Aaron Sorkin ini memadukan ketegangan, konflik etika, dan kritik terhadap kekuatan algoritma.
Sinopsis The Social Reckoning
Enam belas tahun setelah The Social Network, Aaron Sorkin kembali mengangkat kisah di balik perusahaan teknologi raksasa melalui The Social Reckoning. Kali ini, cerita berpusat pada Frances Haugen (Mikey Madison), mantan karyawan Facebook yang menemukan sejumlah dokumen internal terkait dampak sistem algoritma terhadap penggunanya.
Frances kemudian bekerja sama dengan Jeff Horwitz (Jeremy Allen White), jurnalis investigasi The Wall Street Journal, untuk mengungkap temuan tersebut kepada publik. Penelusuran mereka mengarah pada persoalan serius, mulai dari penyebaran ujaran kebencian dan disinformasi hingga perundungan terhadap remaja dan radikalisasi pengguna.
Di tengah upaya tersebut, Mark Zuckerberg (Jeremy Strong) menjadi salah satu figur penting dalam konflik yang mempertemukan kepentingan perusahaan dengan keselamatan masyarakat.
Ketegangan Dibangun Lewat Investigasi
The Social Reckoning tidak mengandalkan aksi besar untuk menjaga perhatian penonton. Ketegangan justru tumbuh melalui pengungkapan informasi secara bertahap, pertemuan rahasia, dan tekanan yang dihadapi Frances serta Jeff selama menjalankan investigasi.
Sorkin menyajikan cerita dengan ritme relatif cepat, diselingi dialog tajam dan kilas balik yang membantu menjelaskan perkembangan persoalan. Tata suara yang subtil, pencahayaan kontras, serta pengambilan gambar yang menimbulkan kesan diawasi turut memperkuat atmosfer thriller.
Film ini juga menyoroti bagaimana algoritma dapat memprioritaskan konten yang memancing emosi demi meningkatkan interaksi. Persoalan tersebut menjadi inti konflik sekaligus mengingatkan penonton bahwa aktivitas di media sosial tidak selalu berlangsung secara netral.
Meski demikian, pembahasan mengenai algoritma, data, dan sistem rekomendasi cukup padat. Penonton perlu menyimak dialog dengan saksama agar tidak kehilangan konteks investigasi yang sedang berlangsung.
Akting Meyakinkan, tetapi Dialog Terasa Seragam
Mikey Madison tampil meyakinkan sebagai Frances Haugen. Ia menggambarkan sosok cerdas yang harus menghadapi tekanan moral dan risiko pribadi setelah mengetahui persoalan di tempat kerjanya. Ekspresi serta gesturnya membantu memperlihatkan pergulatan karakter tanpa perlu banyak dramatisasi.
Jeremy Allen White juga memberikan penampilan yang solid sebagai Jeff Horwitz. Pembawaannya terasa realistis sebagai jurnalis yang mengandalkan ketelitian dan ketekunan. Sementara itu, Jeremy Strong menghadirkan Mark Zuckerberg dengan gestur kaku, ekspresi dingin, dan sikap yang sulit ditebak.
Namun, dialog cepat dan penuh sindiran menjadi pedang bermata dua. Gaya khas Sorkin memang membuat percakapan terasa hidup, tetapi terkadang membuat setiap karakter terdengar serupa. Beberapa keputusan dramatik juga terasa kurang meyakinkan, sehingga tidak seluruh adegan berhasil menyatu secara alami.
Kritik Media Sosial yang Masih Relevan
Kekuatan utama The Social Reckoning terletak pada isu yang diangkat. Film ini mempertanyakan sejauh mana perusahaan teknologi boleh mengutamakan interaksi pengguna ketika sistem yang mereka kembangkan berpotensi memperbesar kebencian dan konflik sosial.
Meski berangkat dari peristiwa beberapa tahun lalu, persoalan tersebut masih relevan di tengah perdebatan mengenai tanggung jawab platform digital. Sayangnya, film ini belum sepenuhnya menjawab bagaimana persoalan itu berkembang setelah periode yang diceritakannya.
Secara keseluruhan, The Social Reckoning layak dipertimbangkan bagi penonton yang menyukai thriller investigasi dengan isu sosial dan teknologi. Akting para pemain serta tensi cerita menjadi daya tarik utama, meski dialog yang padat menuntut konsentrasi lebih. Film ini mengingatkan bahwa konten yang memenuhi linimasa bukan sekadar pilihan algoritma, melainkan juga cerminan kepentingan di balik sebuah platform.