Review Awarapan 2: Emraan Hashmi Membawa Kembali Nuansa Film Bollywood 2000-an

-
Review Awarapan 2: Emraan Hashmi Membawa Kembali Nuansa Film Bollywood 2000-an

Setelah 19 tahun, Shivam Pandit akhirnya kembali. Emraan Hashmi menghidupkan lagi karakter ikonik dari Awarapan dalam Awarapan 2, sekuel yang jelas dibuat untuk penonton yang masih menyimpan kenangan terhadap drama kriminal Bollywood era 2000-an.

Film ini tidak berusaha mengubah formula secara drastis. Sebaliknya, Awarapan 2 justru kembali menawarkan apa yang dulu membuat film pertamanya begitu melekat: tokoh utama yang murung, kisah cinta penuh luka, dunia kriminal, baku tembak, dan tentu saja lagu-lagu melankolis yang mudah dikenali.

Shivam Kembali dengan Misi Baru

Cerita kembali mengikuti Shivam Pandit (Emraan Hashmi), yang masih dihantui kematian Aliah (Shriya Saran), kekasihnya dari film pertama. Kehidupannya berubah ketika ia menemukan seorang bayi yang kemudian diberi nama Aliah.

Bertahun-tahun kemudian, anak tersebut diadopsi sebuah keluarga. Shivam kembali mendapat kabar tentang Aliah ketika mengetahui bahwa sang anak terjebak dalam jaringan perdagangan manusia.

Petunjuk tersebut membawanya ke Bangkok. Shivam kemudian harus menyusup ke kelompok kriminal yang dipimpin Zorawar (Puran Gabbi) demi menyelamatkan Aliah.

Premisnya cukup menarik, tetapi bukan sesuatu yang benar-benar baru. Penonton bisa dengan mudah menebak arah ceritanya. Untungnya, sutradara Nitin Kakkar menjaga tempo tetap bergerak, terutama pada bagian awal film.

Emraan Hashmi Masih Menjadi Jiwa Film

Kalau ada satu alasan utama untuk menonton Awarapan 2, jawabannya tetap Emraan Hashmi.

Hashmi terlihat sangat nyaman kembali menjadi Shivam. Ia tidak perlu banyak dialog untuk menunjukkan luka dan kemarahan karakternya. Tatapan, gestur, dan pembawaannya yang dingin sudah cukup menggambarkan sosok pria yang hidupnya dipenuhi kehilangan.

Menariknya, film ini seperti sengaja membiarkan Hashmi menjadi pusat perhatian. Hampir semua konflik pada akhirnya kembali kepada Shivam. Bahkan ketika karakter lain memiliki potensi besar, mereka sering kali hanya menjadi pelengkap perjalanan sang protagonis.

Puran Gabbi cukup mencuri perhatian sebagai Zorawar. Ia menghadirkan antagonis yang brutal, impulsif, dan sedikit eksentrik. Suvinder Vicky juga tampil meyakinkan sebagai Jaideep.

Sementara itu, Shabana Azmi sebenarnya punya karakter yang menjanjikan sebagai Nafisa, penguasa dunia kriminal Bangkok. Sayangnya, perannya tidak mendapatkan ruang sebesar yang seharusnya.

Disha Patani juga terasa kurang kuat sebagai Zara. Hubungan romantisnya dengan Shivam tidak memiliki kedalaman emosional yang cukup sehingga sulit meninggalkan kesan.

Musik Menjadi Mesin Nostalgia

Salah satu senjata paling efektif Awarapan 2 adalah musiknya.

Kehadiran Toh Phir Aao dan Tera Mera Rishta langsung membawa penonton kembali ke atmosfer film pertama. Lagu-lagu tersebut bukan sekadar tempelan, tetapi menjadi pengingat mengapa karakter Shivam dan Awarapan masih memiliki tempat khusus bagi penggemarnya.

Film ini juga menghadirkan sejumlah lagu baru dengan nuansa serupa. Hasilnya mungkin tidak semuanya meninggalkan kesan kuat, tetapi cukup untuk menjaga identitas musikal waralaba.

Ketika Aksi Mulai Terasa Berulang

Masalah film mulai terlihat ketika cerita memasuki paruh kedua. Baku tembak dan adegan aksi datang terlalu sering sehingga ketegangan yang awalnya terasa efektif perlahan kehilangan daya.

Beberapa konflik juga terasa dipanjangkan. Alih-alih memperdalam karakter, film justru beberapa kali kembali menggunakan pola yang sama. Akibatnya, bagian akhir terasa lebih lambat dibanding paruh pertamanya.

Meski begitu, Awarapan 2 masih memiliki cukup banyak momen yang menghibur. Produksi yang mengambil lokasi di Bangkok membuat film terasa lebih besar, sementara adegan kejar-kejaran dan aksi memberikan tontonan yang lebih modern dibanding film pertamanya.

Kesimpulan

Awarapan 2 memang bukan sekuel yang menawarkan cerita revolusioner. Namun, film ini tahu persis apa yang dicari penggemarnya.

Emraan Hashmi masih menjadi daya tarik utama, sementara musik nostalgia dan karakter Shivam membuat film terasa seperti reuni dengan masa lalu. Kekurangannya terletak pada cerita yang familiar dan paruh akhir yang terlalu repetitif.

Bagi penonton yang tumbuh dengan film-film Emraan Hashmi pada era 2000-an, Awarapan 2 bisa menjadi perjalanan nostalgia yang menyenangkan. Bukan comeback yang sempurna, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa Shivam Pandit masih punya alasan untuk kembali ke layar lebar.