Review Harusnya Horror: Hantu Wibu Pemalu dalam Misi Menakuti 100 Ribu Orang

-
Review Harusnya Horror: Hantu Wibu Pemalu dalam Misi Menakuti 100 Ribu Orang

Judul Harusnya Horror mungkin membuat penonton membayangkan film penuh teror dan jumpscare. Namun, debut penyutradaraan Reza Oktovian alias Reza Arap ini justru mengambil arah berbeda. Film produksi Ess Jay Pictures tersebut menggabungkan komedi, fantasi, drama, dan sedikit sentuhan horor dalam cerita yang absurd.

Kisahnya berpusat pada Mas, seorang pria introvert penggemar anime yang meninggal sebelum sempat menyaksikan episode terakhir anime favoritnya. Keinginan sederhana itu membuatnya menjadi arwah penasaran. Dari alam baka, Mas mendapat satu misi: menakut-nakuti 100 ribu manusia agar keinginannya bisa terpenuhi.

Masalahnya, Mas sama sekali bukan hantu yang menakutkan. Ia justru pemalu, minder, bahkan lebih mudah ketakutan saat berhadapan dengan manusia. Konsep inilah yang menjadi sumber komedi utama Harusnya Horror. Film membalik formula horor konvensional dengan menjadikan sang hantu sebagai karakter yang paling sering panik.

Chemistry AAA Clan Jadi Kekuatan Utama

Dalam menjalankan misinya, Mas bertemu sekelompok kreator konten yang terdiri dari Jot, Gea, Kenzo, Cipuy, dan Kevin. Mereka sedang mencari cara membuat konten horor viral demi menghasilkan uang. Pertemuan dengan hantu sungguhan tentu menjadi peluang yang tidak ingin dilewatkan.

Bagi penonton yang mengikuti Marapthon dan AAA Clan, suasana film ini terasa cukup familier. Interaksi, celetukan, serta gaya bercanda para pemain membawa energi yang mirip dengan konten digital mereka. Bedanya, kali ini mereka harus mempertahankan karakter dan mengikuti alur cerita sepanjang film berdurasi sekitar 106 menit.

Sebagian akting memang masih terasa seperti melihat kreator konten bermain di depan kamera ketimbang aktor yang sepenuhnya tenggelam dalam karakter. Namun chemistry yang telah terbangun di antara mereka menjadi nilai tambah. Jot juga menjadi salah satu pemain yang cukup mencuri perhatian, terutama ketika film mulai memasuki bagian yang lebih emosional.

Visual Playful dan Satire Dunia Konten

Harusnya Horror tidak berusaha menjadi film horor gelap. Visualnya bermain dengan nuansa yang lebih cerah, efek bergaya komik, serta situasi absurd yang menegaskan identitas film ini sebagai horor-komedi.

Reza Arap juga menyisipkan sentuhan personal lewat satire ringan tentang dunia kreator konten, ambisi mengejar viralitas, hingga perjuangan menghasilkan uang dari internet. Pendekatan tersebut terasa dekat dengan dunia yang selama ini membesarkan namanya.

Drama di Balik Tawa

Meski sebagian besar waktunya diisi komedi receh dan kekacauan absurd, film ini menyimpan drama yang mulai terasa menjelang akhir. Hubungan Mas dengan Gea, yang diperankan mendiang Lula Lahfah, menghadirkan warna emosional berbeda.

Kehadiran Lula membuat sejumlah adegan terasa lebih bermakna karena Harusnya Horror menjadi karya terakhirnya. Momen emosional antara Mas dan Gea pun menjadi salah satu bagian yang paling membekas setelah film berakhir.

Secara keseluruhan, Harusnya Horror adalah film yang tahu betul siapa target penontonnya. Ini bukan tontonan untuk mereka yang mencari teror, gore, atau jumpscare intens. Namun, bagi penggemar komedi absurd, AAA Clan, dan Marapthon, film ini menawarkan pengalaman yang ringan, akrab, dan cukup menghibur.

Harusnya Horror mulai tayang di bioskop Indonesia pada 20 Agustus 2026.

 

Saksikan aksi hantu penakut Mas bersama kekacauan kreator konten AAA Clan dalam Harusnya Horror, mulai tayang di bioskop Indonesia pada 20 Agustus 2026.