Review Film Petaka Gunung Welirang, Kisah Pendakian Mencekam dari Gunung Welirang

-
Review Film Petaka Gunung Welirang, Kisah Pendakian Mencekam dari Gunung Welirang

Film horor bertema pendakian gunung tampaknya masih menjadi formula yang terus diminati di perfilman Indonesia. Setelah banyak film dengan konsep serupa hadir dalam beberapa tahun terakhir, kini Starvision kembali menghadirkan Petaka Gunung Welirang, film horor yang terinspirasi dari kisah nyata pendakian di Gunung Welirang, Jawa Timur.

Disutradarai Indra Gunawan dengan naskah garapan Upi, film ini mencoba memadukan misteri, folklore Jawa, dan drama emosional dalam satu perjalanan pendakian yang berujung petaka.

Alih-alih tampil sebagai horor penuh jumpscare, Petaka Gunung Welirang justru lebih terasa seperti drama survival dengan sentuhan mistis yang cukup kental.

Kisah Lima Sahabat yang Terjebak di Alas Lali Jiwo

Cerita berpusat pada lima sahabat, Satria, Naya, Arga, Noval, dan Tita yang memutuskan mendaki Gunung Welirang untuk merayakan kelulusan mereka. Awalnya, perjalanan berlangsung menyenangkan seperti pendakian anak muda pada umumnya. Mereka bercanda, menikmati perjalanan, sekaligus mengabadikan momen bersama.

Namun suasana mulai berubah ketika mereka memasuki kawasan Alas Lali Jiwo menjelang Malam 1 Suro. Kejadian-kejadian aneh mulai bermunculan. Suara gamelan terdengar dari tengah hutan, sosok misterius mulai menampakkan diri, hingga mereka perlahan kehilangan arah di kawasan yang dipercaya menjadi gerbang menuju alam gaib.

Teror semakin terasa saat mereka diyakini memasuki wilayah kekuasaan Sang Ratu, sosok penjaga istana gaib Gunung Welirang bersama para penarinya. Sejak itu, pendakian yang awalnya penuh tawa berubah menjadi perjuangan bertahan hidup.

Fokus pada Hubungan Karakter

Salah satu hal yang paling menonjol dari Petaka Gunung Welirang adalah pendekatannya yang lebih fokus pada hubungan antarkarakter dibanding sekadar menghadirkan teror.

Film ini memberi ruang cukup besar untuk membangun dinamika persahabatan para tokohnya. Konflik antara Satria dan Arga menjadi salah satu benang merah yang terus berkembang sepanjang cerita. Naya hadir sebagai penengah, sementara Noval dan Tita melengkapi dinamika kelompok meski porsinya tidak terlalu besar.

Pendekatan ini membuat para karakter terasa lebih dekat dengan penonton. Ketika situasi mulai memburuk, rasa panik, kecewa, hingga ego antarteman terasa cukup natural.

Sayangnya, keputusan untuk memperkuat drama membuat unsur horor terasa tidak terlalu dominan. Adegan menyeramkan memang tetap hadir, tetapi intensitasnya cenderung naik turun. Beberapa momen yang seharusnya terasa mencekam justru lewat begitu saja tanpa membangun ketegangan yang maksimal.

Bagi penonton yang berharap film horor dengan teror agresif dan jumpscare bertubi-tubi, film ini mungkin terasa kurang memuaskan. Namun untuk penonton yang menikmati horor dengan sentuhan emosional, pendekatan tersebut justru menjadi nilai lebih.

Visual Pegunungan Jadi Daya Tarik

Dari sisi visual, Petaka Gunung Welirang tampil cukup menarik. Film ini berhasil menampilkan panorama Gunung Welirang dengan sinematografi yang memanjakan mata. Jalur pendakian, kawasan hutan, hingga air terjun diperlihatkan dengan cukup detail dan terasa realistis.

Berbeda dengan banyak film horor Indonesia yang identik dengan tone gelap, film ini justru memilih tampilan visual yang lebih terang. Pilihan tersebut membuat suasana pendakian terasa lebih nyata, meski di sisi lain sedikit mengurangi nuansa angker yang seharusnya muncul dari Alas Lali Jiwo.

Meski begitu, unsur folklore Jawa tetap terasa lewat suara gamelan, penampakan penari gaib, dan kemunculan sosok Sang Ratu yang menjadi pusat misteri film ini.

Sayangnya, mitologi tentang penguasa gaib Gunung Welirang terasa belum digali lebih dalam. Kemunculan sosok tersebut cukup menarik perhatian, tetapi penjelasannya masih terasa minim sehingga menyisakan banyak pertanyaan hingga akhir film.

Akting Para Pemain Cukup Solid

Dari jajaran pemain, Antonio Blanco Jr menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Ia berhasil membawakan karakter Satria dengan emosi yang cukup kuat, terutama saat situasi mulai berubah menjadi penuh tekanan.

Giulio Parengkuan juga tampil meyakinkan sebagai Arga, karakter keras kepala yang beberapa kali memicu konflik dalam kelompok. Sementara Alika Jantinia mampu menghadirkan sisi emosional yang membuat karakter Naya terasa cukup penting di tengah cerita.

Chemistry antarpemain menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Interaksi mereka terasa natural dan membuat drama persahabatan di dalamnya lebih mudah diterima penonton.

Layak Ditonton untuk Penikmat Horor Lokal

Secara keseluruhan, Petaka Gunung Welirang memang bukan film yang benar-benar menghadirkan sesuatu yang baru dalam genre horor pendakian. Formula ceritanya masih cukup familiar dan mengingatkan pada beberapa film bertema serupa.

Namun film ini tetap berhasil tampil berbeda lewat fokusnya pada drama karakter dan hubungan persahabatan. Nuansa survival yang dipadukan dengan mitologi lokal membuat ceritanya terasa lebih emosional dibanding sekadar film horor biasa.

Meski atmosfer horornya belum sepenuhnya kuat dan pengembangan mitologinya masih terasa tanggung, Petaka Gunung Welirang tetap layak ditonton, terutama bagi pencinta horor folklore Indonesia yang menyukai cerita dengan sentuhan drama dan petualangan survival.