Review GOAT: Perjuangan Kambing Muda Menembus Kerasnya Dunia Roarball

Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Review GOAT: Perjuangan Kambing Muda Menembus Kerasnya Dunia Roarball

Film animasi GOAT datang membawa premis yang sederhana namun relevan: mimpi besar bisa lahir dari siapa saja, bahkan dari mereka yang selama ini diremehkan. Diproduksi oleh Sony Pictures Animation dan disutradarai oleh Tyree Dillihay, film ini mengangkat kisah olahraga dalam balutan dunia hewan antropomorfik yang unik dan penuh warna.

Sejak awal, GOAT tidak menyembunyikan bahwa ia memakai formula klasik film olahraga. Ada tokoh underdog, konflik internal tim, hingga momen kebangkitan menjelang laga penentuan. Namun yang membuatnya menarik bukan pada ceritanya yang penuh kejutan, melainkan pada cara film ini membungkus kisah tersebut dengan gaya visual berani dan energi yang terasa segar.

Dunia Vineland dan Olahraga Roarball

Cerita berpusat pada Will Harris, seekor kambing muda yang bermimpi menjadi pemain roarball—olahraga mirip basket dengan tempo lebih keras dan liar. Suara Will diisi oleh Caleb McLaughlin, yang berhasil menghadirkan karakter penuh semangat sekaligus rapuh.

Di dunia Vineland, ukuran tubuh menentukan segalanya. Hewan besar mendominasi lapangan, sementara hewan kecil seperti Will diberi label “smalls” dan dianggap tidak punya tempat. Slogan “Smalls can’t ball” menjadi stigma sosial yang terus menghantui.

Kesempatan Will datang secara tak terduga ketika aksinya di lapangan jalanan viral di media sosial. Ia direkrut ke tim Vineland Thorns, yang dipimpin bintang panther karismatik Jett Fillmore—disuarakan penuh percaya diri oleh Gabrielle Union. Namun masuk tim besar bukan berarti semua berjalan mulus. Jett tengah diliputi kecemasan soal usia dan performa, sementara anggota tim lain sibuk dengan ego masing-masing.

Cerita Klasik dengan Sentuhan Modern

Secara garis besar, GOAT mengingatkan pada film-film olahraga keluarga seperti The Mighty Ducks atau Space Jam. Ada latihan keras, konflik, dan pelajaran tentang kerja sama tim. Bedanya, GOAT mencoba memberi sentuhan kekinian lewat referensi budaya pop, media sosial, hingga nuansa hip-hop yang terasa kental dalam musik dan dialognya.

Sayangnya, dari sisi naskah, beberapa bagian terasa klise dan mudah ditebak. Konfliknya tidak benar-benar menawarkan kejutan besar. Namun untuk kategori tontonan keluarga, alur yang familiar justru membuatnya mudah diikuti oleh berbagai usia.

Visual yang Jadi Kekuatan Utama

Kalau ada satu aspek yang benar-benar menonjol, itu adalah visualnya. Sony Pictures Animation kembali menunjukkan kualitas produksi yang solid. Kota Vineland digambarkan dengan pendekatan artistik yang berbeda dari animasi arus utama. Latar belakangnya tampak seperti lukisan hidup, dengan warna berani dan tekstur tebal yang terasa hangat sekaligus sedikit kasar.

Setiap arena roarball punya karakter unik—mulai dari lapangan bernuansa hutan hingga stadion ekstrem berlatar gunung berapi. Gerakan kamera saat pertandingan berlangsung juga dibuat dinamis, membuat adegan terasa intens dan imersif. Tidak berlebihan jika visualnya menjadi alasan utama untuk menonton film ini di layar lebar.

Hiburan Keluarga yang Aman dan Inspiratif

Selain McLaughlin dan Union, film ini juga diramaikan sejumlah nama seperti David Harbour dan bintang NBA Stephen Curry. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri pada karakter-karakter pendukung yang eksentrik.

Pada akhirnya, GOAT bukan film animasi yang akan mengubah standar genre olahraga. Ia tidak menawarkan plot revolusioner atau twist mengejutkan. Namun sebagai tontonan akhir pekan bersama keluarga, film ini bekerja dengan baik. Pesan tentang kepercayaan diri, kerja sama, dan keberanian melawan stigma disampaikan dengan ringan tanpa terasa menggurui.

GOAT mungkin bukan “greatest of all time” dalam dunia animasi, tetapi cukup solid untuk menghibur. Dengan visual memikat, musik yang energik, dan cerita yang mudah dicerna, film ini layak masuk daftar tontonan keluarga tahun ini.