Review Panor 2: Teror Dewa Bermata Tiga Kembali Mengguncang Layar Lebar
Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Film horor Thailand Panor 2 akhirnya resmi tayang di Indonesia sejak 11 Februari 2026. Disutradarai oleh Putipong Saisikaew, sekuel ini melanjutkan kisah kelam Panor setelah peristiwa mengerikan di film pertamanya. Mengusung tema ilmu hitam, kutukan, dan konflik psikologis, film berdurasi 125 menit ini hadir dengan rating 21+ karena adegan gore dan kekerasan yang cukup ekstrem.
Sebagai bagian dari semesta Art of the Devil (Long Khong), Panor 2 bukan sekadar lanjutan cerita, tetapi juga memperkaya lore dunia ilmu hitam Thailand yang sudah dikenal brutal dan disturbing. Bagi pencinta horor Asia, film ini menjadi salah satu tontonan wajib awal tahun 2026.
Sinopsis Panor 2: Kehidupan Baru yang Tak Pernah Benar-Benar Bersih
Kisah berfokus pada Panor yang kini kehilangan ingatan setelah melepaskan kekuatan Dewa Bermata Tiga. Ia mendapatkan kesempatan kedua untuk menjalani hidup normal sebagai mahasiswi di perguruan tinggi keguruan, profesi yang sejak lama diimpikannya. Dari kejauhan, Pieak tetap setia menjaga dan mengawasi Panor tanpa sepengetahuannya.
Awalnya, kehidupan Panor tampak damai. Ia menjalani rutinitas kuliah, membangun pertemanan, dan mencoba menata masa depan. Namun kedamaian itu perlahan retak. Tekanan sosial, praktik bullying, pengkhianatan, serta pihak-pihak yang mengincar kekuatan gaibnya menjadi pemicu bangkitnya energi gelap yang selama ini tertidur.
Peringatan untuk tidak membangkitkan kekuatan Dewa Bermata Tiga terasa semakin relevan. Saat kekuatan itu kembali aktif, Panor berubah menjadi sosok yang berbeda. Teror pun kembali menyelimuti, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis.
Akting Kuat dan Transformasi Mengerikan
Penampilan Cherprang Areekul sebagai Panor menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Ia berhasil menampilkan dua sisi karakter dengan sangat meyakinkan: gadis polos yang penuh harapan dan sosok mengerikan yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ekspresi mata, bahasa tubuh, hingga ledakan emosi di adegan klimaks terasa intens dan autentik.
Sementara itu, Jackie Jackrin Kungwankiatichai sebagai Pieak menghadirkan dimensi emosional yang menyentuh. Karakternya yang protektif dan penuh pengorbanan menjadi penyeimbang di tengah kekacauan ritual dan kutukan.
Chemistry antarpemain terasa natural, terutama dalam dinamika pertemanan yang berubah menjadi konflik dan pengkhianatan. Lapisan drama inilah yang membuat Panor 2 tidak sekadar mengandalkan teror visual.
Atmosfer Kelam, Gore Intens, dan Ritual Disturbing
Secara visual, Panor 2 tampil berani. Adegan ritual ilmu hitam, perang mantra, serta detail penyiksaan tubuh disajikan dengan efek praktikal yang cukup meyakinkan. Beberapa adegan melibatkan elemen menjijikkan seperti hewan dan potongan tubuh, yang bisa membuat sebagian penonton merasa mual.
Sinematografi didominasi pencahayaan redup dengan nuansa merah gelap yang menekan. Kamera kerap mengambil close-up wajah untuk memperkuat rasa tidak nyaman. Ditambah desain suara berupa bisikan, denting ritual, dan jeritan mendadak, atmosfer horor terasa konsisten sepanjang film.
Meski begitu, ada beberapa momen CGI yang tampak kurang halus. Selain itu, bagian tengah film sempat terasa sedikit melambat, meski tidak sampai merusak keseluruhan pengalaman menonton.
Lebih Ambisius dari Film Pertama
Dibanding film sebelumnya, Panor 2 terasa lebih ambisius dari segi emosi dan skala visual. Jika film pertama lebih fokus pada asal-usul kutukan, sekuel ini mengeksplorasi konsekuensi setelah “penebusan” serta konflik identitas yang lebih kompleks.
Tema tentang trauma, godaan kekuasaan, dan sisi gelap manusia menjadi benang merah cerita. Kekuatan Dewa Bermata Tiga digambarkan sebagai metafora luka batin yang tak pernah benar-benar hilang. Ketika dipicu oleh tekanan sosial dan pengkhianatan, sisi gelap itu bangkit dengan cara yang menghancurkan.
Layak Ditonton atau Tidak?
Sebagai film horor Thailand 2026, Panor 2 sukses menghadirkan kombinasi atmosfer kelam, drama psikologis, dan gore ekstrem yang memikat. Meski ada beberapa kekurangan pada pacing dan efek visual tertentu, secara keseluruhan film ini tetap solid dan menghibur bagi penggemar genre ilmu hitam.
Bagi Anda yang menyukai horor dengan ritual klenik, konflik batin, dan adegan disturbing yang intens, Panor 2 layak masuk daftar tontonan. Namun pastikan mental siap, karena ketika Dewa Bermata Tiga bangkit, Panor bukan lagi sosok yang sama.