Review Mojoku Hilang!: Sapi Diculik, Cinta Adipati Dolken dan Mimi Lana Bersemi

-
Review Mojoku Hilang!: Sapi Diculik, Cinta Adipati Dolken dan Mimi Lana Bersemi

Mojoku Hilang! menawarkan premis yang terdengar sederhana: seekor sapi maskot perusahaan diculik warga desa. Namun, dari cerita tersebut, film arahan Lim Siu Min justru berkembang menjadi komedi romantis tentang cinta, kampung halaman, dan pilihan hidup.

Film Malaysia ini mengikuti Adi (Adipati Dolken), pekerja perusahaan peternakan Moo Magic yang berbasis di Kuala Lumpur. Ia dikenal sebagai sosok ambisius dan sangat berorientasi pada pekerjaan.

Masalah bermula ketika Mojo, sapi yang menjadi maskot sekaligus ikon promosi Moo Magic, diculik oleh warga sebuah desa di Perlis. Mereka menentang rencana perusahaan memperluas bisnis dan mengambil alih lahan di wilayah tersebut.

Adi kemudian ditugaskan mencari Mojo sekaligus membujuk warga agar mau menjual tanah mereka. Ia menyamar sebagai warga desa dengan nama Adam dan mulai berbaur dengan kehidupan masyarakat setempat.

Di sanalah rencana Adi perlahan berantakan.

Adipati Dolken dan Mimi Lana Jadi Daya Tarik Utama

Adi bertemu dengan Ayu (Mimi Lana), perempuan desa yang tegas dan menjadi salah satu pihak yang paling keras menentang rencana Moo Magic. Pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi hubungan yang lebih dekat.

Menariknya, film tidak buru-buru membuat keduanya jatuh cinta. Hubungan Adi dan Ayu dibangun lewat percakapan, aktivitas sehari-hari, hingga rasa saling percaya yang tumbuh secara perlahan.

Chemistry Adipati Dolken dan Mimi Lana menjadi salah satu alasan hubungan tersebut terasa meyakinkan. Adipati juga cukup nyaman memainkan karakter Adi yang berada di antara dua dunia: pekerja korporasi yang mengejar target dan seseorang yang mulai mempertanyakan pilihan hidupnya sendiri.

Kemampuan Adipati menggunakan bahasa Melayu turut menjadi perhatian. Beberapa dialog memang masih terdengar sedikit kaku, tetapi secara keseluruhan ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pemain asal Malaysia.

Sementara itu, Mimi Lana memberikan energi yang pas untuk karakter Ayu. Ia tidak hanya tampil sebagai sosok perempuan desa yang keras kepala, tetapi juga memperlihatkan sisi lembut dan kepeduliannya terhadap masa depan kampung.

Perlis Bukan Sekadar Latar

Salah satu kekuatan Mojoku Hilang! adalah cara film memanfaatkan Perlis sebagai bagian penting dari cerita.

Hamparan sawah, jalan desa, perkebunan, dan lanskap hijau ditampilkan dengan sinematografi yang hangat. Suasana tersebut membuat kehidupan kampung terasa jauh berbeda dari dunia korporasi yang selama ini dijalani Adi.

Keindahan Perlis juga membantu menjelaskan mengapa warga begitu keras mempertahankan tanah mereka. Bagi masyarakat desa, lahan tersebut bukan sekadar aset yang bisa dihitung berdasarkan nilai ekonomi, tetapi bagian dari keluarga, kenangan, dan kehidupan yang sudah berlangsung turun-temurun.

Film pun tidak sepenuhnya menggambarkan desa sebagai tempat yang sempurna. Ada warga yang ingin mempertahankan tradisi, tetapi ada pula yang melihat pembangunan sebagai kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.

Sapi Mojo Malah Jadi Pelengkap

Ironisnya, semakin cerita berjalan, Mojo justru semakin jarang menjadi pusat perhatian. Sapi yang menjadi alasan Adi datang ke desa perlahan berubah menjadi pemicu yang mempertemukan berbagai karakter.

Meski begitu, keberadaan Mojo tetap efektif sebagai sumber humor. Beberapa adegan yang melibatkan sapi tersebut menjadi bagian paling ringan di tengah konflik mengenai lahan dan masa depan desa.

Komedi dalam film juga tidak selalu mengandalkan slapstick. Banyak kelucuan muncul dari interaksi warga, percakapan sehari-hari, serta karakter-karakter pendukung yang memiliki tingkah unik.

Review Mojoku Hilang!

Sebagai film komedi romantis, Mojoku Hilang! memang tidak menawarkan cerita yang benar-benar baru. Penonton kemungkinan bisa menebak arah hubungan Adi dan Ayu maupun konflik antara perusahaan dan warga sejak awal.

Beberapa bagian juga terasa terlalu panjang sehingga ritme film sesekali melambat. Karakter antagonis dari pihak perusahaan pun dibuat cukup berlebihan dibandingkan konflik internal di desa yang terasa lebih menarik.

Namun, film ini punya satu modal yang sulit diabaikan: ketulusan.

Mojoku Hilang! tidak mencoba menjadi film yang rumit. Ia memilih bercerita dengan sederhana tentang seseorang yang kembali menemukan arti rumah, perempuan yang mempertahankan tempat tinggalnya, dan hubungan yang tumbuh di tengah sebuah konflik.

Dengan chemistry Adipati Dolken dan Mimi Lana, visual Perlis yang memanjakan mata, serta humor ringan khas kehidupan kampung, film ini menjadi tontonan rom-com yang hangat dan mudah dinikmati.

Pada akhirnya, Mojoku Hilang! bukan benar-benar tentang mencari sapi yang hilang. Mojo hanyalah pintu masuk menuju cerita yang lebih besar: tentang cinta, keluarga, kampung halaman, dan keputusan untuk menentukan apa yang sebenarnya berharga dalam hidup.