Review The Dog Stars: Saat Ridley Scott Mencari Harapan di Ujung Dunia

-
Review The Dog Stars: Saat Ridley Scott Mencari Harapan di Ujung Dunia

The Dog Stars membawa Ridley Scott kembali ke dunia pasca-apokaliptik. Sayangnya, film ini lebih kuat sebagai drama tentang kehilangan daripada thriller bertahan hidup yang menegangkan.

Pandemi flu telah mengubah dunia menjadi tempat yang nyaris tak berpenghuni. Sebagian besar manusia tewas, kota-kota ditinggalkan, sementara para penyintas harus bertarung untuk mendapatkan makanan, bahan bakar, dan tempat berlindung.

Di tengah dunia seperti itu, Hig (Jacob Elordi) memilih bertahan di sebuah landasan udara terpencil bersama Jasper, anjing kesayangannya, dan Bangley (Josh Brolin), mantan marinir yang keras serta selalu siap menarik pelatuk.

Namun, keduanya memiliki cara pandang yang bertolak belakang. Hig masih percaya bahwa di luar sana mungkin ada kehidupan yang lebih baik. Bangley justru menganggap dunia baru hanya menyisakan satu aturan: bunuh atau dibunuh.

Perbedaan itulah yang menjadi fondasi The Dog Stars. Film ini tidak sekadar berbicara tentang bagaimana manusia bertahan hidup setelah kiamat, tetapi juga tentang apakah masih ada alasan untuk berharap ketika hampir semua yang dicintai sudah hilang.

Bukan Film Post-Apokaliptik yang Penuh Aksi

Jika melihat materi promosinya, The Dog Stars mudah disangka sebagai film survival dengan banyak baku tembak dan kejar-kejaran. Kenyataannya, Ridley Scott memilih pendekatan yang jauh lebih tenang.

Hig lebih sering terlihat menerbangkan pesawat kecilnya untuk mencari persediaan, menjelajahi wilayah kosong, atau sekadar memandang dunia yang sudah berubah. Ritmenya lambat dan cukup reflektif.

Pendekatan tersebut sebenarnya menarik. Masalahnya, film tidak selalu mampu membuat perjalanan Hig terasa penting.

Naskah Mark L. Smith, yang diadaptasi dari novel Peter Heller, terlalu sering mengandalkan formula film pasca-apokaliptik yang sudah dikenal. Ada kelompok penyintas brutal, wilayah terpencil, persediaan yang terbatas, hingga sosok misterius yang mengancam keselamatan para karakter.

Kelompok Reapers, misalnya, seharusnya menjadi ancaman terbesar dalam cerita. Namun, minimnya latar belakang membuat mereka terasa seperti antagonis generik. Mereka lebih berfungsi sebagai alasan untuk menghadirkan konflik ketimbang karakter yang benar-benar membuat penonton merasa terancam.

Jacob Elordi Jadi Pusat Emosional

Di tengah cerita yang tidak selalu solid, Jacob Elordi menjadi salah satu alasan film ini tetap menarik untuk diikuti.

Sebagai Hig, Elordi tidak memainkan karakter yang banyak bicara. Ia lebih banyak mengandalkan ekspresi, gestur, dan tatapan untuk menunjukkan rasa kehilangan yang dialaminya.

Hubungannya dengan Jasper juga menjadi elemen emosional penting. Anjing tersebut bukan sekadar teman seperjalanan, tetapi pengingat terakhir Hig terhadap kehidupan yang pernah ia miliki.

Margaret Qualley kemudian hadir sebagai Cima, seorang perempuan yang juga hidup bersama luka masa lalu. Hubungan keduanya berkembang secara perlahan dan menjadi bagian paling manusiawi dari film.

Josh Brolin pun tampil solid sebagai Bangley. Karakternya memang terlihat seperti stereotip pria tua yang sinis dan bersenjata, tetapi Brolin memberikan sedikit kehangatan di balik sikap kasarnya.

Visual Menjadi Kekuatan Utama

Kalau ada satu aspek yang sulit dibantah dari The Dog Stars, jawabannya adalah visual.

Sinematografer Erik Messerschmidt menangkap lanskap pegunungan Italia yang digunakan untuk menggambarkan Colorado dengan sangat indah. Adegan Hig menerbangkan Cessna tua di antara pegunungan menjadi salah satu momen terbaik film.

Ridley Scott juga masih menunjukkan kemampuannya dalam membangun dunia melalui gambar. Kota-kota kosong, alam liar, bangunan terbengkalai, dan jalanan tanpa manusia membuat kehancuran dunia terasa nyata.

Sayangnya, kualitas visual tersebut tidak selalu diimbangi cerita yang sama kuatnya. Beberapa adegan aksi justru terasa seperti tempelan dalam film yang sebenarnya ingin menjadi drama karakter.

Kesimpulan

The Dog Stars bukan film buruk, tetapi juga bukan karya Ridley Scott yang akan mudah dikenang sebagai salah satu film terbaiknya.

Kekuatan film ini terletak pada atmosfer, sinematografi, serta penampilan Jacob Elordi dan Margaret Qualley. Sebaliknya, naskah yang terlalu familiar dan ritme yang lambat membuat ketegangan sulit terbangun.

Pada akhirnya, The Dog Stars lebih cocok dilihat sebagai drama tentang manusia yang mencoba menemukan kembali harapan setelah kehilangan segalanya. Bagi penonton yang menginginkan aksi post-apokaliptik nonstop, film ini mungkin terasa mengecewakan. Namun, jika yang dicari adalah kisah survival yang lebih personal dan melankolis, film ini masih layak diberi kesempatan.