Review Urang Bunian: Horor Hutan Sumatera Barat dengan Sentuhan Budaya Minang

-
Review Urang Bunian: Horor Hutan Sumatera Barat dengan Sentuhan Budaya Minang

Film horor Indonesia kembali mengangkat legenda lokal lewat Urang Bunian, karya sutradara Rendy Herpy yang membawa mitos Sumatera Barat ke layar lebar. Film ini tidak hanya mengandalkan teror makhluk gaib, tetapi juga mencoba membangun suasana horor dari budaya dan kepercayaan masyarakat Minangkabau.

Salah satu hal yang membuat Urang Bunian menarik adalah pilihan karakter utamanya. Film horor Indonesia kerap menempatkan remaja atau mahasiswa sebagai tokoh yang masuk ke tempat angker karena rasa penasaran. Kali ini, cerita justru mengikuti Teddy (Dimas Aditya), seorang perwira TNI, bersama sahabatnya, Kevin (Fauzan Nasrul).

Memanfaatkan Mitos Urang Bunian

Cerita dibuka pada 1994 ketika Etty (Ruth Marini) berada di sebuah Rumah Gadang bersama suaminya, Datuk Hitam (Anton Permana). Sebuah kejadian misterius membuat Etty menghilang dan menjadi awal dari legenda yang kemudian terhubung dengan cerita utama.

Tiga puluh tahun kemudian, Teddy melakukan perjalanan menuju kampung halaman istrinya, Annisa (Adinda Thomas), di pedalaman Sumatera Barat. Bersama Kevin, ia harus melewati perjalanan panjang menuju wilayah yang dikelilingi hutan.

Sebelumnya mereka sudah mendapat pesan agar melakukan perjalanan pada siang hari. Namun, keterlambatan membuat keduanya tetap berada di perjalanan hingga malam. Situasi berubah ketika mobil mereka mengalami masalah di tengah hutan dan hujan turun.

Dari sini, film mulai membangun misterinya secara perlahan. Teddy dan Kevin menemukan sebuah kampung yang sebelumnya tidak mereka lihat sepanjang perjalanan. Mereka kemudian menyadari bahwa tempat tersebut bukan kampung biasa, melainkan wilayah yang berkaitan dengan urang bunian.

Atmosfer Horor Jadi Kekuatan

Urang Bunian cukup berhasil memanfaatkan hutan sebagai sumber ketegangan. Lingkungan yang gelap, sepi, dan sulit dipetakan membuat perjalanan Teddy dan Kevin terasa semakin tidak aman.

Film juga tidak terus-menerus mengandalkan jumpscare. Beberapa adegan justru bekerja lewat suasana, kemunculan sosok misterius, serta perasaan bahwa ada sesuatu yang mengawasi dari balik pepohonan.

Konsep dunia urang bunian menjadi bagian yang menarik karena memberikan ruang bagi film untuk memainkan batas antara realitas dan dunia gaib. Ketika Teddy dan Kevin semakin jauh masuk ke wilayah tersebut, aturan yang mereka kenal perlahan tidak lagi berlaku.

Identitas Budaya yang Terasa

Kekuatan lain Urang Bunian terletak pada latar Sumatera Barat. Rumah Gadang, bahasa Minang, hutan pedalaman, hingga kepercayaan terhadap urang bunian menjadi bagian penting dalam membangun identitas film.

Rendy Herpy juga melakukan riset terhadap berbagai cerita tentang urang bunian di Sumatera Barat. Hasilnya kemudian dipadukan dengan visinya untuk menciptakan versi yang sesuai dengan kebutuhan cerita film.

Secara keseluruhan, Urang Bunian menawarkan horor dengan pendekatan yang cukup berbeda. Eksekusinya masih memiliki beberapa bagian yang bisa dibuat lebih kuat, tetapi keberanian mengangkat legenda Minang menjadi nilai tersendiri. Film ini terasa seperti perpaduan antara misteri, teror hutan, dan eksplorasi budaya lokal yang membuat ceritanya memiliki identitas.