Review Resident Evil: Zach Cregger Bikin Horor Game Terasa Hidup
Arin Mahesa -
Resident Evil (2026) tidak mencoba mengulang cerita lama. Di tangan Zach Cregger, waralaba horor ini justru dibawa ke arah yang lebih liar lewat karakter baru, monster brutal, humor gelap, dan atmosfer yang terasa seperti sedang memainkan gim.
Cregger, yang sebelumnya menyutradarai Barbarian dan Weapons, memilih Bryan (Austin Abrams) sebagai pusat cerita. Ia bukan Leon S. Kennedy, Chris Redfield, atau karakter veteran yang sudah akrab dengan dunia penuh zombie.
Bryan hanyalah kurir medis yang sedang menjalankan tugas.
Namun, sebuah kecelakaan di jalan bersalju membuat malamnya berubah menjadi mimpi buruk. Dari sana, ia terseret ke dalam wabah yang mengubah manusia menjadi makhluk mengerikan.
Bukan Pahlawan, Cuma Orang Biasa
Keputusan menjadikan Bryan sebagai protagonis menjadi salah satu daya tarik utama Resident Evil.
Ia tidak terlatih menghadapi monster. Ia tidak mahir menggunakan senjata. Bahkan, sebagian reaksinya ketika berhadapan dengan bahaya terasa seperti reaksi orang biasa yang tiba-tiba dilempar ke dalam film horor.
Di sinilah Austin Abrams bekerja cukup baik.
Bryan panik, ragu, salah mengambil keputusan, bahkan beberapa kali melakukan hal yang membuat situasi semakin buruk. Namun, justru itu yang membuat karakternya mudah diikuti.
Film tidak meminta penonton untuk melihat Bryan sebagai jagoan sejak awal. Penonton diajak mengikuti proses ketika ia perlahan belajar bertahan hidup.
Pendekatan tersebut membuat Resident Evil terasa lebih dekat dengan pengalaman survival horror.
Monster Mengerikan dan Body Horror yang Efektif
Kalau ada satu hal yang paling menonjol dari film ini, desain monster menjadi salah satunya.
Cregger tidak terpaku pada zombie klasik. Infeksi dalam film menghasilkan makhluk dengan bentuk dan gerakan yang lebih beragam. Beberapa di antaranya terlihat menjijikkan sekaligus mengancam.
Body horror juga menjadi bagian penting.
Film cukup berani memperlihatkan perubahan tubuh manusia akibat infeksi. Ada sejumlah adegan yang bukan hanya dirancang untuk membuat penonton takut, tetapi juga merasa tidak nyaman.
Atmosfer ikut memperkuatnya. Jalanan bersalju, rumah terpencil, lorong sempit, dan rumah sakit menjadi ruang yang terasa tidak aman.
Resident Evil juga tidak mengandalkan jumpscare secara berlebihan. Beberapa adegan justru bekerja karena film membuat penonton menunggu sesuatu yang belum terlihat.
Seperti Sedang Memainkan Resident Evil
Cregger jelas memahami bahwa kekuatan Resident Evil bukan hanya terletak pada zombie dan monster.
Ada rasa bermain gim yang sengaja dimasukkan ke dalam film.
Perjalanan Bryan terasa seperti perkembangan karakter dalam sebuah permainan. Senjata yang digunakan berubah seiring situasi. Perspektif kamera juga beberapa kali berganti, termasuk momen first-person yang membuat adegan terasa seperti gameplay.
Beberapa bagian bahkan terasa seperti cutscene yang tiba-tiba berubah menjadi permainan.
Easter egg untuk penggemar juga tersebar sepanjang film. Namun, referensi tersebut tidak mengambil alih cerita. Resident Evil tetap mencoba berdiri sebagai film baru dengan kisahnya sendiri.
Konsekuensinya, penggemar yang mengharapkan cerita lebih dekat dengan karakter dan mitologi gim mungkin menemukan sejumlah keputusan yang terasa berbeda.
Horor yang Sesekali Bikin Tertawa
Resident Evil juga tidak sepenuhnya serius.
Cregger memasukkan humor gelap di antara adegan horor dan kekerasan. Sebagian besar muncul dari Bryan yang terus bereaksi terhadap situasi absurd di sekitarnya.
Humor ini kadang berhasil mencairkan ketegangan. Namun, ada pula beberapa bagian yang terasa terlalu dipaksakan, terutama ketika film mulai mendekati klimaks.
Meski begitu, perpaduan horor, aksi, dan humor tersebut masih terasa cocok dengan karakter Resident Evil. Film ini tidak berusaha menjadi horor murni dari awal sampai akhir.
90 Menit yang Bergerak Cepat
Dengan durasi sekitar 90 menit, Resident Evil tidak berlama-lama.
Begitu Bryan masuk ke dalam masalah, film terus mendorongnya ke situasi berikutnya. Ada monster, kejar-kejaran, senjata, darah, hingga rangkaian adegan yang terasa seperti level berbeda dalam sebuah gim.
Tempo cepat ini membuat film terasa padat. Namun, efek sampingnya juga terasa pada bagian akhir.
Klimaks mengambil arah yang cukup berani dan mungkin tidak akan diterima semua penonton. Beberapa keputusan karakter juga terasa terlalu nekat sehingga sedikit mengurangi ketegangan yang sebelumnya sudah dibangun.
Pada akhirnya, Resident Evil adalah interpretasi Zach Cregger terhadap dunia game yang sudah dikenal luas. Film ini punya monster yang berani, body horror yang kuat, atmosfer mencekam, humor gelap, serta visual yang beberapa kali terasa seperti gameplay.
Namun, film ini juga cukup bebas mengolah cerita dan karakternya.
Bagi penonton baru, Resident Evil masih bisa dinikmati sebagai film survival horror dengan tempo cepat. Sementara bagi penggemar game, daya tarik terbesarnya justru terletak pada bagaimana Cregger menerjemahkan pengalaman bermain Resident Evil ke layar lebar tanpa sekadar menyalin cerita dari game.