Review Wings of Dread: Duel Iko Uwais dan Ashton Chen di Atas Pesawat
Arga Pratama -
Wings of Dread (2026) menawarkan tontonan action thriller yang sederhana, tetapi punya satu senjata utama: pertarungan brutal di ruang sempit. Film garapan Qin Pengfei dan Ashton Chen ini mempertemukan dua bintang laga Asia, Iko Uwais dan Ashton Chen, dalam aksi pembajakan pesawat yang berubah menjadi pertarungan hidup dan mati.
Film berdurasi sekitar 86 menit ini memang tidak menawarkan cerita yang terlalu rumit. Namun, ketika aksi mulai pecah di dalam kabin pesawat, Wings of Dread menunjukkan alasan mengapa film seperti ini tetap menarik untuk ditonton.
Sinopsis Wings of Dread
Cerita mengikuti Gu Chaoyang (Ashton Chen), seorang polisi udara yang sedang melakukan perjalanan menggunakan pesawat internasional. Dalam penerbangan tersebut, ia juga berharap bisa memperbaiki hubungannya dengan sang kekasih yang bekerja sebagai pramugari.
Situasi berubah drastis ketika sekelompok pembajak menyusup ke dalam pesawat. Mereka dipimpin Paquet, karakter yang diperankan Iko Uwais. Para pembajak memiliki senjata dan sebuah bom yang digunakan untuk mengancam keselamatan seluruh penumpang.
Gu Chaoyang pun terpaksa kembali menjalankan tugasnya. Ia harus menghadapi para pembajak sekaligus memastikan pesawat tetap aman. Masalahnya, pertarungan berlangsung di ketinggian puluhan ribu kaki dengan ruang gerak yang sangat terbatas.
Aksi Jadi Kekuatan Utama
Jika ada satu alasan utama untuk menonton Wings of Dread, jawabannya adalah adegan laga. Film ini benar-benar memanfaatkan pesawat sebagai arena pertarungan.
Lorong kabin, deretan kursi, area pelayanan hingga ruang kargo semuanya digunakan untuk menciptakan koreografi yang berbeda. Bahkan turbulensi dan perubahan posisi pesawat ikut dimanfaatkan untuk membuat pertarungan terasa lebih berbahaya.
Menariknya, produksi film ini menggunakan bagian pesawat komersial yang sudah tidak digunakan dan membangun interior dengan ukuran sebenarnya. Hasilnya, para aktor memiliki ruang fisik yang realistis untuk melakukan berbagai adegan laga.
Meski begitu, penggunaan kamera yang terlalu aktif terkadang justru mengurangi kenikmatan saat menyaksikan koreografi. Kamera sering bergerak, berguncang, dan berpindah mengikuti setiap pukulan. Padahal, koreografi para pemain sebenarnya sudah cukup kuat tanpa perlu terlalu banyak bantuan dari kamera.
Iko Uwais Jadi Daya Tarik
Bagi penonton Indonesia, kehadiran Iko Uwais jelas menjadi salah satu alasan terbesar untuk menyaksikan film ini. Ia tampil sebagai antagonis dan mendapat kesempatan memperlihatkan kemampuan bela dirinya.
Duel Iko Uwais melawan Ashton Chen tentu menjadi salah satu momen yang paling dinantikan. Keduanya membawa gaya bertarung berbeda: kung fu milik Ashton Chen berhadapan dengan silat yang menjadi ciri khas Iko Uwais.
Namun, secara mengejutkan, duel keduanya bukanlah pertarungan terbaik dalam film. Adegan yang paling mencuri perhatian justru pertarungan Qu Jingjing dan Hong Shuang di dalam toilet pesawat.
Ruang yang nyaris tidak memberikan tempat untuk bergerak membuat pertarungan tersebut terasa brutal sekaligus kreatif. Dinding, wastafel, dan ruang sempit di dalam toilet semuanya berubah menjadi bagian dari koreografi.
B-Movie yang Tahu Prioritas
Secara cerita, Wings of Dread memang tidak menawarkan banyak kejutan. Karakternya cukup sederhana dan sebagian besar cerita hanya berfungsi sebagai jembatan menuju adegan aksi berikutnya.
Namun, justru di situlah film ini memahami kekuatannya. Wings of Dread tidak berusaha menjadi thriller psikologis atau drama karakter yang kompleks. Film ini ingin menjadi tontonan laga yang langsung, cepat, dan menghibur.
Kehadiran Iko Uwais juga menunjukkan semakin terbukanya film aksi China terhadap talenta laga internasional. Sayangnya, keputusan mengganti suara asli Iko dengan dubbing beraksen Amerika terasa cukup aneh, terutama bagi penonton yang sudah familiar dengan suaranya.
Pada akhirnya, Wings of Dread bukan film yang unggul karena cerita. Film ini bekerja ketika para pemain mulai berkelahi. Dengan koreografi yang kreatif, ruang sempit dan dua bintang laga Asia sebagai daya tarik utama, film ini menjadi pilihan menarik bagi pencinta film action.
Wings of Dread telah dirilis di China pada 3 Juli 2026 dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 28 Agustus 2026.