Review Film Whistle: Teror Peluit Aztec yang Padukan Kutukan dan Drama Remaja

Tim Teaterdotco - 3 jam yang lalu
Review Film Whistle: Teror Peluit Aztec yang Padukan Kutukan dan Drama Remaja

Whistle menjadi salah satu film horor supernatural yang mencuri perhatian lewat konsep benda terkutuk bernama Death Whistle. Film produksi Irlandia-Kanada ini disutradarai Corin Hardy dan dibintangi Dafne Keen, Sophie Nélisse, serta Nick Frost. Sejak diputar di sejumlah festival film sebelum rilis luas, Whistle sudah memantik rasa penasaran berkat premisnya yang menggabungkan mitologi Aztec dan pola kematian ala film kutukan populer.

Namun, apakah film ini benar-benar menghadirkan sesuatu yang segar untuk genre horor remaja?

Teror Dimulai dari Sebuah Peluit Kuno

Kisah berpusat pada Chrys (Dafne Keen), siswi SMA yang pindah ke kota kecil bekas kawasan industri baja di Amerika Utara. Suatu hari, ia menemukan peluit kuno berbentuk tengkorak di dalam loker seorang siswa populer yang tewas secara misterius. Pada peluit tersebut terukir kalimat yang bisa diartikan sebagai “memanggil kematian” atau “memanggil kematianmu”.

Rasa penasaran mendorong Chrys dan teman-temannya untuk meniup peluit itu. Sejak saat itu, satu per satu dari mereka mulai diteror oleh kematian yang seolah sudah ditakdirkan. Konsep ini mengingatkan pada pola kematian berantai seperti dalam Final Destination, di mana takdir terasa mustahil untuk dihindari.

Bedanya, Whistle mencoba memberi sentuhan emosional lewat ketakutan personal masing-masing karakter. Setiap adegan kematian dirancang berdasarkan kecemasan terdalam para remaja tersebut.

Drama Remaja dan Identitas Diri

Di balik teror berdarah, film ini sebenarnya lebih fokus pada pergulatan identitas dan rasa keterasingan remaja. Chrys digambarkan sebagai sosok pendiam dan cemas, bukan tipikal karakter sembrono dalam film slasher. Hubungannya dengan Ellie (Sophie Nélisse) memberi lapisan emosional yang cukup hangat di tengah ancaman kematian.

Pendekatan ini membuat Whistle terasa lebih simpatik dibanding horor remaja kebanyakan. Penonton diajak melihat sisi rapuh para karakter, bukan sekadar menunggu siapa yang akan mati berikutnya.

Adegan Festival Halloween Jadi Puncak Ketegangan

Salah satu momen paling kuat hadir dalam sekuens festival panen dengan labirin jerami bernuansa Halloween. Suasana gelap, kostum bertebaran, dan ruang sempit menciptakan ketegangan yang lebih hidup. Kamera bergerak dinamis, mempermainkan batas antara dekorasi dan ancaman nyata.

Sayangnya, setelah adegan ini, ritme film terasa menurun. Intensitas yang sempat memuncak tidak selalu terjaga hingga akhir.

Mitologi yang Kurang Digali

Meski mengusung artefak Aztec sebagai inti cerita, latar budaya tersebut hanya disentuh sekilas. Penjelasan mengenai asal-usul peluit dan aturan kutukannya terasa minim. Padahal, eksplorasi mitologi bisa menjadi kekuatan utama yang membedakan film ini dari horor sejenis.

Beberapa subplot, termasuk karakter guru eksentrik Mr. Craven (Nick Frost) dan sosok pendeta misterius, juga terasa kurang menyatu dengan konflik utama.

Layak Tonton, Tapi Belum Ikonik

Secara keseluruhan, Whistle menawarkan kombinasi horor kutukan dan drama coming-of-age dengan nuansa gelap dan sedikit humor satir. Penyutradaraan Corin Hardy lebih lepas dibanding karya sebelumnya, dengan sentuhan referensi genre yang cukup cerdas.

Meski memiliki beberapa adegan kematian kreatif dan performa akting yang solid, film ini masih terjebak dalam formula yang mudah ditebak. Potensinya besar, tetapi eksekusinya belum sepenuhnya maksimal.

Bagi penggemar horor remaja dengan tema benda terkutuk dan kejar-kejaran takdir, Whistle tetap bisa menjadi tontonan seru untuk akhir pekan. Hanya saja, jangan berharap pengalaman yang benar-benar revolusioner dalam genre horor supernatural.