Review Kokuho: Drama Epik Kabuki yang Berhasil Pecahkan Rekor Box Office Jepang

Tim Teaterdotco - 3 jam yang lalu
Review Kokuho: Drama Epik Kabuki yang Berhasil Pecahkan Rekor Box Office Jepang

Film Jepang Kokuho sukses mencuri perhatian publik dan kritikus sejak penayangan perdananya. Disutradarai oleh Lee Sang-il dan dibintangi Ryo Yoshizawa, film berdurasi hampir tiga jam ini menjelma menjadi film live action terlaris sepanjang masa di Jepang. Pencapaiannya semakin lengkap setelah masuk nominasi Oscar untuk kategori tata rias dan tata rambut terbaik.

Secara makna, “Kokuho” berarti "Kebanggaan Negara", gelar bergengsi yang diberikan pemerintah Jepang kepada maestro seni tradisional. Dari judulnya saja, film ini sudah menawarkan satu pertanyaan penting: seberapa besar harga yang harus dibayar untuk menjadi legenda.

Dari Anak Yakuza ke Dunia Kabuki

Cerita berfokus pada Kikuo Tachibana, anak seorang bos yakuza di Nagasaki pada era 1960-an. Hidupnya berubah drastis ketika sang ayah tewas dalam konflik antar kelompok. Peristiwa itu menjadi titik balik yang membawanya masuk ke dunia yang sama sekali berbeda.

Kikuo kemudian diasuh oleh aktor kabuki ternama, Hanai Hanjiro II, yang diperankan oleh Ken Watanabe. Di bawah bimbingan sang maestro, Kikuo mulai menekuni seni kabuki secara serius. Ia menunjukkan bakat alami sebagai onnagata, yaitu aktor pria yang memerankan karakter perempuan dalam teater tradisional Jepang.

Namun dunia kabuki tidak mudah menerima orang luar. Tradisi garis keturunan sangat dijunjung tinggi. Status Kikuo sebagai anak angkat membuatnya harus bekerja dua kali lebih keras untuk membuktikan diri.

Rivalitas, Persahabatan, dan Ambisi

Di tempat latihan, Kikuo tumbuh bersama Shunsuke, putra kandung Hanjiro yang diperankan oleh Ryusei Yokohama. Hubungan keduanya tidak pernah sederhana. Mereka adalah sahabat sekaligus pesaing di atas panggung.

Film yang diadaptasi dari novel karya Shuichi Yoshida ini membentang hampir lima dekade perjalanan hidup para tokohnya. Penonton diajak menyaksikan bagaimana ambisi dan tekanan tradisi perlahan mengubah dinamika hubungan mereka. Kadang terasa hangat seperti saudara, di lain waktu dipenuhi kecemburuan dan konflik yang sulit diselesaikan.

Kikuo digambarkan sebagai sosok yang sangat fokus pada kesempurnaan seni. Ia rela mengorbankan kehidupan pribadi demi mempertahankan reputasi dan mencapai standar tertinggi dalam kabuki. Di sisi lain, Shunsuke memiliki emosi yang lebih meledak dan perjalanan hidup yang penuh gejolak. Perbedaan karakter ini membuat konflik terasa nyata dan menyentuh.

Visual Panggung yang Memukau

Salah satu kekuatan utama Kokuho terletak pada visualnya. Setiap adegan pertunjukan kabuki ditampilkan dengan detail yang mengagumkan. Tata rias wajah yang tebal dan dramatis, kostum berlapis dengan warna mencolok, hingga gerakan tangan dan tatapan mata yang penuh makna direkam dengan presisi tinggi.

Kamera kerap menyorot wajah para aktor dalam jarak dekat, membuat emosi mereka terasa begitu intim. Penonton bukan hanya melihat pertunjukan, tetapi juga merasakan pergulatan batin yang tersembunyi di balik riasan panggung.

Ryo Yoshizawa tampil sangat kuat sebagai Kikuo. Ia memainkan karakter ini dengan kontrol emosi yang halus. Perubahan bahasa tubuh dan ekspresinya dari masa muda hingga usia matang terasa meyakinkan. Banyak yang menilai perannya di film ini sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam kariernya.

Ken Watanabe juga tampil solid sebagai mentor yang perlahan dimakan usia, sementara Ryusei Yokohama menghadirkan energi emosional yang kontras dan intens.

Potret Seniman dan Harga Sebuah Kesempurnaan

Meski berdurasi panjang, Kokuho tetap terasa relevan karena kisahnya menyentuh tema universal tentang ambisi dan pengorbanan. Film ini menunjukkan bahwa kesuksesan artistik sering datang bersama kesepian dan kehilangan.

Pada akhirnya, Kokuho bukan hanya tentang kabuki. Film ini adalah potret mendalam tentang seorang seniman yang terus mengejar kesempurnaan, meski harus mempertaruhkan kebahagiaan pribadinya. Sebuah drama historis yang megah, emosional, dan layak menjadi salah satu film Jepang paling berkesan dalam beberapa tahun terakhir.