Ghost in the Cell Disambut Meriah di Berlinale 2026, Joko Anwar Bawa Horor Indonesia ke Panggung Dunia
Tim Teaterdotco - 2 jam yang lalu
Ghost in the Cell mencuri perhatian publik internasional saat melakukan penayangan perdana dunia di ajang Berlin International Film Festival atau Berlinale 2026. Film horor komedi satir garapan Joko Anwar ini mendapatkan sambutan luar biasa dari para penonton yang memadati bioskop sepanjang festival berlangsung pada 13–22 Februari 2026 di Berlin, Jerman.
Antusiasme sudah terasa bahkan sebelum lampu studio dipadamkan. Seluruh tiket untuk empat kali penayangan film ini dilaporkan terjual habis. Saat film diputar, respons audiens begitu hidup. Tawa pecah di berbagai adegan, disusul tepuk tangan riuh dan sorakan penuh apresiasi.
Masuk Program Forum Berlinale 2026
Di Berlinale 2026, Ghost in the Cell terpilih masuk dalam program Forum, sebuah seksi bergengsi yang dikenal menampilkan film-film dengan visi sinematik kuat, berani secara bentuk, dan tajam dalam membaca realitas sosial politik. Kehadiran film ini di program tersebut menegaskan reputasi Joko Anwar sebagai sineas yang konsisten menghadirkan karya dengan perspektif kritis.
Dalam sesi tanya jawab usai pemutaran, sejumlah penonton internasional menyebut film ini sebagai karya yang cerdas dan menghibur. Ada yang memuji keberanian pendekatan satirnya, ada pula yang menilai film ini mampu memadukan humor dan ketegangan dengan sangat efektif.
Horor Menghibur yang Tetap Reflektif
Joko Anwar menjelaskan bahwa sejak awal ia ingin menghadirkan tontonan yang benar-benar menghibur, namun tetap menyisakan ruang refleksi. Menurutnya, film ini dirancang agar penonton tidak hanya tertawa atau terkejut, tetapi juga membawa pulang pemikiran tentang realitas sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Ia juga menegaskan bahwa Ghost in the Cell menjadi salah satu filmnya yang paling menghibur sejauh ini, namun tetap memiliki lapisan makna yang kuat. Dalam proyek terbarunya ini, Joko lebih menekankan pendalaman karakter, bukan sekadar mengandalkan set atau atmosfer visual semata. Unsur horor supranatural tetap menjadi fondasi, tetapi kali ini terasa lebih tak terelakkan dan menyatu dengan narasi sosial yang dibangun.
Relevan untuk Penonton Global
Produser Tia Hasibuan mengaku lega melihat respons positif dari audiens internasional. Ia menyebut cerita film ini memang berangkat dari dinamika yang terjadi di Indonesia. Namun di luar dugaan, tema yang diangkat ternyata juga terasa relevan bagi penonton lintas negara.
Menurutnya, keberhasilan film ini di Berlinale menjadi sinyal kuat bahwa horor komedi satir dengan konteks lokal pun dapat diterima secara global selama dikemas dengan pendekatan yang jujur dan kuat secara artistik.
Melanjutkan Rekam Jejak Prestasi
Ghost in the Cell menjadi karya terbaru Joko Anwar setelah sebelumnya ia menerima penghargaan kebudayaan Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis atas kontribusinya di dunia perfilman. Film sebelumnya, Pengepungan di Bukit Duri, juga mencatat prestasi gemilang dengan meraih lima Piala Citra di Festival Film Indonesia 2025 serta tiga penghargaan di Festival Film Pilihan Tempo.
Dengan sambutan meriah di Berlinale 2026, ekspektasi terhadap penayangan Ghost in the Cell di Indonesia semakin tinggi. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Tanah Air mulai 16 April 2026. Jika melihat respons penonton internasional, bukan tidak mungkin film ini akan menjadi salah satu karya paling diperbincangkan tahun ini.