Review Film Blades of the Guardians, Aksi Wuxia Brutal yang Penuh Gaya
Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
Blades of the Guardians datang sebagai angin segar bagi pencinta film laga Tiongkok. Diadaptasi dari manhua populer karya Xianzhe Xu, film ini disutradarai oleh legenda koreografi laga Yuen Woo-ping dan diproduseri oleh dua nama besar, Wu Jing serta Jet Li. Dengan kombinasi tersebut, ekspektasi jelas tinggi, dan sebagian besar berhasil dijawab lewat aksi yang benar benar memanjakan mata.
Sinopsis, Misi Pengawalan yang Berujung Kekacauan
Berlatar di akhir Dinasti Sui, cerita berpusat pada Dao Ma, pemburu bayaran sekaligus buronan nomor dua di negeri itu. Ia mendapat tugas untuk mengawal Zhi Shilang, sosok pemberontak yang menjadi buronan paling dicari, menuju ibu kota Chang’an.
Awalnya terlihat seperti misi biasa. Namun di tengah gurun yang luas dan ganas, perjalanan berubah menjadi ajang perburuan besar besaran. Pasukan kerajaan, pendekar bayaran, hingga mantan rekan Dao Ma ikut memburu target yang sama. Situasi makin rumit karena setiap karakter punya kepentingan sendiri.
Dao Ma tidak sendirian. Ia ditemani Xiao Qi, anak kecil yang selalu mengikutinya. Dalam perjalanan, mereka juga bertemu Ayuya, pendekar wanita tangguh, Shu si pendekar berambut putih, hingga Di Ting yang menyimpan agenda tersembunyi.
Aksi Jadi Daya Tarik Utama
Kalau bicara soal aksi, film ini benar benar total. Yuen Woo-ping membuktikan bahwa sentuhannya masih sangat tajam. Adegan pertarungan dikemas rapi, mudah diikuti, dan penuh variasi.
Duel pedang terjadi di tengah badai pasir, kobaran api, bahkan hujan salju. Elemen alam bukan sekadar latar, tetapi ikut menjadi bagian dari pertarungan. Ada adegan perkelahian di tengah angin gurun yang berputar kencang, ada pula duel dengan api menyala di sekitar para pendekar. Semua terasa intens dan penuh tenaga.
Berbeda dari wuxia klasik yang sering menampilkan gerakan melayang anggun, Blades of the Guardians menghadirkan pertarungan yang lebih keras dan brutal. Tebasan pedang terasa berat, pukulan terlihat menyakitkan, dan beberapa adegan eksekusi cukup sadis. Namun nilai nilai khas wuxia seperti kehormatan dan kesetiaan tetap terasa kuat.
Akting Kuat, Karakter Belum Semua Tergarap Maksimal
Wu Jing tampil meyakinkan sebagai Dao Ma. Ia memancarkan aura pendekar dingin dengan masa lalu kelam. Ekspresinya tenang, tapi ketika bertarung, energinya langsung meledak. Chen Lijun sebagai Ayuya juga mencuri perhatian lewat karakter perempuan tangguh yang tidak sekadar jadi pelengkap.
Nicholas Tse memberi warna lewat karakter Di Ting yang misterius. Sementara kemunculan Jet Li meski singkat tetap terasa spesial. Karismanya masih kuat dan sukses membangun suasana sejak awal film.
Sayangnya, tidak semua karakter mendapat pendalaman yang cukup. Zhi Shilang yang seharusnya menjadi figur kharismatik justru tampil agak membingungkan. Ia disebut sebagai sosok yang menginspirasi rakyat, tetapi di layar terkadang terlihat eksentrik dan kurang meyakinkan. Beberapa subplot politik juga terasa padat, sehingga tidak semuanya berkembang maksimal.
Dengan durasi sekitar 126 menit, film ini memang terasa penuh. Plotnya kompleks dan kadang sedikit berantakan. Namun jika tujuan utama menonton adalah mencari aksi bela diri kelas dunia, film ini jelas tidak mengecewakan.
Blades of the Guardians adalah tontonan yang merayakan tradisi wuxia sekaligus membawanya ke level yang lebih modern dan agresif. Bagi penonton yang rindu duel pedang intens dengan visual megah dan jajaran aktor karismatik, film ini layak masuk daftar tonton.