Review O Romeo: Saat Cinta dan Dunia Mafia Mumbai Saling Menghancurkan

Tim Teaterdotco - 1 jam yang lalu
Review O Romeo: Saat Cinta dan Dunia Mafia Mumbai Saling Menghancurkan

Nama Vishal Bhardwaj selama ini identik dengan adaptasi Shakespeare bernuansa kelam dan puitis. Lewat film-film seperti Maqbool, Omkara, hingga Haider, ia dikenal piawai meramu tragedi klasik menjadi drama kriminal yang relevan dengan realitas India modern. Namun lewat O’Romeo, Bhardwaj mengambil jalur berbeda, lebih brutal, lebih komersial, dan terasa lebih “liar” dibanding karya-karya sebelumnya.

Film ini terinspirasi dari buku Mafia Queens of Mumbai karya Hussain Zaidi, yang sebelumnya juga melahirkan film sukses Gangubai Kathiawadi. Jika film tersebut menyorot sosok perempuan kuat yang naik takhta di dunia gelap Mumbai, maka O’Romeo memilih sudut pandang berbeda: kisah cinta berdarah dari seorang pembunuh bayaran.

Cinta, Dendam, dan Peluru

Berlatar Mumbai 1995, cerita berpusat pada Hussain Ustara alias Romeo, diperankan Shahid Kapoor. Ia adalah algojo bayaran dengan reputasi sangar, tetapi diam-diam bekerja sama dengan aparat intelijen. Hidupnya berubah ketika bertemu Afshan Siddiqui (Triptii Dimri), janda muda yang ingin membalas kematian suaminya.

Afshan datang bukan dengan air mata semata, melainkan daftar nama yang harus dihabisi. Salah satu targetnya adalah Jalal, don kejam yang punya jaringan hingga luar negeri, diperankan Avinash Tiwary. Dari hubungan profesional yang penuh kecurigaan, benih cinta tumbuh. Namun, ini bukan romansa manis. Hubungan mereka dibangun di atas luka, obsesi, dan darah.

Alih-alih menyajikan kisah cinta yang perlahan berkembang, film ini langsung mendorong penonton ke dunia kekerasan. Adegan baku tembak, pembunuhan sadis, hingga konflik antar-geng mendominasi layar.

Visual Kuat, Emosi Kurang Dalam

Secara teknis, O’Romeo bukan film yang main-main. Tata gambar gelap dengan nuansa noir terasa konsisten. Adegan aksi dikemas rapi dengan potongan cepat dan desain suara yang intens. Musik garapan Bhardwaj sendiri menambah lapisan emosional, meski penempatan beberapa lagu terasa lebih sebagai pelengkap komersial ketimbang kebutuhan cerita.

Masalah muncul pada fondasi utama film: romansa antara Romeo dan Afshan. Dengan durasi hampir tiga jam, penonton justru minim momen intim yang benar-benar membuat hubungan keduanya terasa kuat. Perubahan karakter Ustara dari pria dingin menjadi sosok yang rela berkorban terasa kurang meyakinkan.

Akibatnya, klimaks yang seharusnya emosional justru terasa datar. Film seperti menjanjikan tragedi cinta besar, tetapi lebih sibuk memamerkan gaya dan kekerasan.

Akting Jadi Daya Tarik

Di tengah naskah yang naik turun, performa para pemain menjadi penyelamat. Shahid Kapoor tampil total sebagai gangster flamboyan yang kasar di luar, tetapi menyimpan keretakan batin. Ia terlihat nyaman dengan karakter penuh swagger dan agresi.

Triptii Dimri kembali mencuri perhatian lewat perannya sebagai Afshan. Ia tidak digambarkan sebagai perempuan tak berdaya, melainkan sosok rapuh yang tetap punya tekad kuat. Chemistry keduanya memang ada, tetapi tidak sepenuhnya dimanfaatkan secara emosional.

Sementara itu, Nana Patekar yang berperan sebagai petugas intelijen Khan tampil tenang dan karismatik. Interaksinya dengan Ustara memberi warna tersendiri di tengah cerita yang serba intens.

Ambisi yang Terasa Tanggung

Banyak yang menilai O’Romeo sebagai upaya Bhardwaj mendekat ke selera pasar yang kini menyukai aksi brutal dan karakter abu-abu. Film ini terasa lebih mainstream dibanding karya-karyanya terdahulu. Namun, di situlah letak kegamangannya.

Ia tidak sepenuhnya menjadi film arthouse yang dalam, tapi juga belum cukup emosional untuk menjadi tragedi cinta yang membekas. Yang tersisa adalah potongan-potongan adegan kuat, beberapa dialog menarik, serta visual yang stylish.

Pada akhirnya, O’Romeo tetap layak ditonton bagi penggemar film gangster Bollywood dengan nuansa gelap. Namun jika berharap kisah cinta tragis yang benar-benar menggetarkan, film ini mungkin belum sampai di titik itu.